Media Kampung – Grab Holdings Limited (GRAB) mengalami penurunan harga saham yang signifikan pada perdagangan 24 April 2026, menembus level terendah mingguan dan melampaui penurunan indeks pasar regional.
Harga saham GRAB turun sekitar 8,5% menjadi US$5,12, sementara MSCI Asia ex Japan hanya mencatat penurunan 3,2% dan indeks S&P 500 turun 4,1% dalam periode yang sama, menandakan tekanan khusus pada perusahaan teknologi layanan on‑demand di Asia Tenggara.
Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terkait prospek laba kuartal ketiga, mengingat persaingan sengit dengan Gojek dan meningkatnya biaya operasional akibat regulasi pemerintah Indonesia yang menuntut kepatuhan data dan keselamatan pengguna.
Analisis dari RHB Capital, yang disampaikan oleh analis senior Ananda Pratama, menyatakan bahwa “margin kontribusi Grab diperkirakan akan tertekan lebih jauh karena biaya insentif driver dan investasi infrastruktur digital yang belum menghasilkan arus kas positif.”
Perusahaan dalam minggu terakhir mengumumkan rencana pemotongan biaya operasional sebesar 12% melalui restrukturisasi tim pemasaran dan penundaan peluncuran fitur GrabFood di beberapa kota kecil, sekaligus memperkuat layanan GrabPay dengan integrasi baru bersama bank regional.
Pasar ride‑hailing di Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh 9% pada tahun 2026, namun pertumbuhan tersebut masih dihadapkan pada regulasi yang semakin ketat serta tekanan harga bahan bakar yang dapat memengaruhi profitabilitas penyedia layanan.
Investor kini menantikan laporan keuangan triwulan ketiga yang dijadwalkan rilis pada 12 Mei 2026, dengan fokus pada perkembangan volume transaksi GrabPay dan tingkat retensi pengguna aktif, yang diproyeksikan menjadi penentu arah pergerakan saham selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Leave a Reply