Media Kampung – Amerika Serikat menaruh harapan besar pada teknologi laser anti‑drone, sementara Ukraina mengandalkan jaring sederhana untuk menahan serangan drone murah di medan perang.
Ribuan drone berbiaya rendah, khususnya tipe FPV, kini dapat menembus pertahanan tradisional dan menyerang kendaraan, pos militer, serta jalur logistik dengan mudah.
Untuk menanggapi ancaman tersebut, Pentagon mempercepat program pengembangan senjata energi terarah yang dapat menembak drone tanpa mengeluarkan amunisi konvensional.
Federal Aviation Administration (FAA) pada 13 April 2026 menyatakan bahwa hasil evaluasi risiko menunjukkan sistem laser tidak menimbulkan peningkatan bahaya bagi penerbangan sipil.
“Setelah melalui penilaian risiko keselamatan yang menyeluruh dan berbasis data, kami menyimpulkan bahwa sistem ini tidak menimbulkan peningkatan risiko bagi masyarakat pengguna transportasi udara,” kata pejabat FAA.
Keunggulan utama laser terletak pada biaya operasional yang hanya memerlukan listrik, berbeda dengan rudal yang mahal dan logistiknya kompleks.
Namun, para ahli menekankan bahwa performa laser masih terbatas pada kondisi cuaca buruk, jarak tembak, dan kebutuhan energi tinggi.
“Pahami dengan baik apa saja keterbatasan sistem laser tersebut, serta bagaimana cara mengendalikannya,” ujar seorang pejabat transportasi AS.
Beberapa uji coba di Amerika mencatat insiden tembakan yang tidak sengaja menargetkan drone pemerintah, memaksa penutupan sementara wilayah udara dan memicu kekhawatiran publik.
Meskipun demikian, Pentagon melanjutkan serangkaian latihan pada akhir Maret 2026 untuk mengumpulkan data operasional dan menyempurnakan protokol keselamatan.
Di Eropa, Inggris mengembangkan sistem laser bernama DragonFire yang diklaim dapat menghancurkan target udara dengan biaya per tembakan jauh lebih murah daripada rudal.
Uji coba di pangkalan militer Inggris menunjukkan kemampuan menetralkan drone dalam radius tiga puluh meter, meski masih memerlukan dukungan radar untuk deteksi awal.
Sementara itu, Ukraina memilih pendekatan yang lebih praktis dengan memasang jaring anti‑drone di sekitar instalasi militer dan jalur suplai.
Jaring tersebut terbuat dari serat nilon berlapis logam, dirancang untuk menjerat drone berukuran kecil dan menahan dampak pada kecepatan rendah.
“Jaring ini dapat dipasang dalam hitungan menit dan biaya produksinya hanya beberapa ratus dolar per unit,” ujar komandan unit pertahanan udara Ukraina.
Efektivitas jaring terbukti ketika selama operasi musim semi 2026, pasukan Ukraina berhasil menurunkan lebih dari dua puluh drone Rusia tanpa menelan kerugian material signifikan.
Dibandingkan dengan sistem laser, jaring memiliki keunggulan mobilitas tinggi dan tidak tergantung pada sumber energi listrik yang besar.
Namun, jaring tidak dapat melindungi area luas dan hanya efektif pada titik‑titik kritis, sementara laser berpotensi memberi perlindungan kontinu di wilayah yang lebih luas bila teknologi matang.
Saat ini, Pentagon merencanakan instalasi percobaan laser anti‑drone di pangkalan militer di Nevada pada akhir April 2026, dengan target operasional penuh pada tahun 2027.
Di Ukraina, produksi jaring massal terus digandakan, dan diperkirakan akan menjadi standar pertahanan murah bagi negara‑negara yang menghadapi ancaman serupa di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan