Media Kampung – 18 April 2026 | Paus Leo XIV menegaskan bahwa “celakalah mereka yang memanipulasi agama demi keuntungan militer, ekonomi, dan politik“, dalam pidato keagamaan yang disampaikan pada kunjungan apostik ke Kamerun pada 16 April 2026. Pernyataan tersebut menyoroti bahaya penggunaan nama Tuhan untuk membenarkan peperangan, sekaligus menyerukan perubahan arah menuju perdamaian yang nyata.

Paidon Vatikan itu menuduh segelintir tiran yang menghabiskan miliaran dolar untuk menghancurkan dunia, sementara sumber daya untuk penyembuhan, pendidikan, dan pemulihan hampir tidak tersedia. Ia menambahkan bahwa tindakan semacam itu menjerumuskan nilai-nilai sakral ke dalam kegelapan dan kekotoran, mengorbankan jiwa-jiwa manusia demi kepentingan sempit.

Pidato Leo diadakan di Katedral Saint Joseph, Bamenda, kota berbahasa Inggris terbesar di Kamerun, yang telah menjadi medan konflik antara pemerintah berbahasa Prancis dan kelompok separatis Anglophone selama hampir satu dekade. Dalam pertemuan lintas agama yang dihadiri pemimpin adat Mankon, perwakilan gereja Protestan, imam Muslim, dan biarawati Katolik, Paus menekankan pentingnya dialog dan solidaritas untuk mengakhiri siklus kekerasan.

Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Kamerun, sejak 2016 konflik di wilayah Anglophone telah menewaskan lebih dari 6.000 warga sipil dan memaksa lebih dari 600.000 orang mengungsi. Paus Leo mencatat bahwa “dunia ini kacau ketika ciptaan Tuhan dieksploitasi untuk kepentingan militer”, menegaskan perlunya upaya internasional yang lebih tegas dalam menyelesaikan krisis tersebut.

Pernyataan Paus Leo menimbulkan reaksi tajam dari pejabat Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam wawancara dengan wartawan Gedung Putih, menyamakan kritik Paus dengan “kaum Farisi” dalam Alkitab, menyiratkan bahwa Paus menolak realitas militer AS di Iran. Hegseth juga menegaskan bahwa operasi militer AS di Iran merupakan bagian dari “misi Ilahi”, mengklaim bahwa Tuhan mendukung perjuangan melawan rezim Tehran.

Sementara itu, mantan Presiden Donald Trump menanggapi melalui media sosial, menyatakan bahwa Paus Leo seharusnya “menggunakan akal sehat” dan tidak “menyajikan diri sebagai politisi”. Trump menuduh Paus mendukung kebijakan Iran yang memperbolehkan kepemilikan senjata nuklir, meskipun Paus belum memberikan pernyataan resmi mengenai isu tersebut.

Para pengamat politik menilai bahwa konfrontasi antara Paus Leo dan pejabat AS mencerminkan benturan nilai antara kepemimpinan moral religius dan kepentingan strategis negara. Konflik ini memperlihatkan bagaimana narasi agama dapat dimanfaatkan untuk memperkuat legitimasi kebijakan luar negeri, sekaligus memicu perdebatan etis di tingkat global.

Konteks tambahan menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah meningkatkan tekanan militer terhadap Iran sejak Februari 2026, dengan lebih dari 3.000 warga Iran dilaporkan meninggal dalam serangkaian serangan udara. Sumber militer AS menyebut bahwa tujuan operasi adalah “menjaga stabilitas regional” dan “melindungi kepentingan energi”, namun kritikus menilai hal tersebut sebagai pembenaran religius yang tidak beralasan.

Paus Leo menutup pidatonya dengan doa untuk perdamaian dan memohon kepada semua pemimpin dunia agar menempatkan nilai kemanusiaan di atas ambisi politik. Ia menegaskan bahwa “dengan menghormati nama Tuhan, kita harus menolak segala bentuk kekerasan yang menyalahgunakan agama”. Kondisi terkini menunjukkan bahwa dialog interfaith di Bamenda berlanjut, sementara tekanan internasional terhadap konflik Iran‑AS terus meningkat, menuntut solusi diplomatik yang menghormati prinsip keadilan dan perdamaian.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.