Media Kampung – 15 April 2026 | Rusia menyatakan kesiapan menerima uranium diperkaya milik Iran untuk tujuan damai, sambil menunggu respons Amerika Serikat atas usulan Presiden Vladimir Putin.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengungkapkan posisi Moskow dalam konferensi pers di Beijing pada 15 April 2026, setelah pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.
Lavrov menegaskan setiap negara berhak memperkaya uranium secara eksklusif untuk penggunaan sipil, dan hak tersebut termasuk Iran.
Ia menambahkan bahwa Rusia akan membantu mengolah uranium dengan tingkat pengayaan tinggi menjadi bahan bakar nuklir atau menyimpannya sesuai keinginan Tehran.
Usulan Putin kepada Washington meliputi penawaran Rusia untuk menjadi perantara penyimpanan atau pemrosesan uranium Iran, namun belum ada tanggapan resmi dari pihak AS.
Presiden Amerika Serikat belum memberikan pernyataan publik terkait proposal tersebut, meskipun diplomasi energi sedang berada pada titik sensitif akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Lavrov juga menyampaikan bahwa ia telah berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi serta perwakilan Israel dan Amerika Serikat mengenai isu uranium.
Menurut pernyataan Lavrov, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak menemukan bukti bahwa program pengayaan Iran diarahkan untuk kepentingan militer.
Ia mengingatkan peran aktif Moskow dalam kesepakatan nuklir 2015, yang mencakup pengelolaan uranium Iran pada masa pemerintahan Presiden Obama.
Sejak penandatanganan Kesepakatan Bersama Komprehensif (JCPOA), Rusia telah membantu menyalurkan bahan bakar nuklir ke Iran dan berpartisipasi dalam pemantauan IAEA.
Dalam konteks geopolitik, tawaran Rusia muncul bersamaan dengan tekanan Barat yang menuntut Iran menghentikan semua kegiatan pengayaan uranium.
Pemerintah Washington sebelumnya meminta Iran mengembalikan sekitar 460 kilogram uranium diperkaya yang disimpan di fasilitas bawah tanah, sebuah tuntutan yang dianggap Tehran tidak realistis.
Lavrov menegaskan Iran tidak berupaya memanfaatkan program nuklirnya untuk tujuan militer, dan menolak tudingan sekutu Barat yang menganggap sebaliknya.
Usulan Putin mencakup kemungkinan Rusia menerima sebagian uranium Iran untuk penyimpanan jangka panjang, dengan jaminan bahwa bahan tersebut tidak akan dialihkan untuk senjata.
Pihak Rusia juga menyatakan siap menyediakan teknologi konversi uranium tingkat tinggi menjadi bahan bakar reaktor, memperkuat klaim bahwa solusi damai dapat dicapai.
Namun, ketidakpastian masih tinggi karena Washington belum mengumumkan kebijakan resmi terkait kerja sama pengelolaan uranium Iran.
Para pengamat menilai bahwa respons lambat AS dapat memperpanjang ketegangan di kawasan Teluk, khususnya mengenai akses ke Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak.
Di sisi lain, Lavrov menekankan pentingnya dialog multilateral, termasuk China, sebagai mediator potensial antara Tehran dan Washington.
Kondisi terbaru menunjukkan Rusia tetap membuka pintu bagi Tehran, sementara Amerika Serikat masih mempertimbangkan langkah diplomatik selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan