Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menegaskan blokade Angkatan Laut AS tetap diberlakukan. Keputusan tersebut diambil pada konferensi pers di Gedung Putih pada 30 April 2026, setelah serangkaian pertemuan dengan penasihat keamanan nasional.

Trump menyatakan bahwa blokade laut lebih efektif dibandingkan serangan udara atau pengeboman dalam menekan program nuklir Tehran. Ia menambahkan, “Mereka sedang tercekik, dan ini akan menjadi lebih buruk bagi Iran,” menegaskan bahwa tekanan ekonomi menjadi senjata utama kebijakan luar negeri AS.

Iran mengajukan tawaran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dengan syarat pencabutan blokade militer Amerika. Proposal tersebut juga menyertakan penundaan negosiasi nuklir ke tahap berikutnya, berharap langkah itu dapat mengembalikan arus ekspor minyak nasional yang terhambat.

Dalam menanggapi tawaran itu, Trump menolak semua kondisi yang mengharuskan pencabutan blokade, berargumen bahwa blokade tetap menjadi instrumen tawar‑menawar yang paling kuat. Ia menegaskan, “Blokade ini sedikit lebih efektif daripada pengeboman,” dan menolak untuk mengubah kebijakan tanpa ada jaminan bahwa Tehran tidak akan memperoleh senjata nuklir.

Sumber dalam Pentagon melaporkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menyusun rencana serangan udara singkat dan kuat untuk mengatasi kebuntuan diplomatik bila Iran menolak menyerah. Namun, sampai saat ini, Trump belum memberikan otorisasi resmi bagi operasi militer tersebut.

Trump juga menyatakan bahwa ketidakmampuan Iran mengekspor minyak telah membuat infrastruktur penyimpanan dan pipa minyak hampir meledak. Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan administrasinya terhadap dampak ekonomi domestik Iran serta potensi bahaya lingkungan yang dihadapi.

Penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 20 persen suplai minyak dunia, menimbulkan kekhawatiran di antara negara‑negara pengguna energi. Beberapa perusahaan pelayaran melaporkan penundaan dan peningkatan biaya asuransi, sementara negara‑negara di kawasan Teluk menegaskan pentingnya keamanan maritim.

Komunitas internasional memberikan respons beragam. Uni Eropa dan PBB menyerukan dialog konstruktif dan menolak eskalasi militer, sementara sekutu tradisional AS di Timur Tengah menyatakan dukungan terhadap kebijakan tekanan terhadap Tehran. Namun, semua pihak sepakat bahwa stabilitas wilayah bergantung pada solusi diplomatik yang berkelanjutan.

Sampai kini, blokade Selat Hormuz masih tetap berlaku, negosiasi antara Washington dan Teheran terus berlangsung, dan tidak ada otorisasi militer baru yang diumumkan. Pemerintah AS menekankan bahwa keputusan akhir akan bergantung pada kepastian bahwa Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir, sementara Iran terus menuntut pencabutan blokade sebagai prasyarat pembicaraan lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.