Media Kampung – Fenomena twin films menjadi momen menarik di industri perfilman Hollywood, di mana dua film dengan tema dan cerita yang sangat mirip dirilis dalam waktu yang berdekatan. Kejadian unik ini bukanlah hal baru, melainkan sudah berlangsung selama puluhan tahun dan mencerminkan dinamika serta strategi dalam dunia perfilman.
Contoh nyata fenomena ini adalah dua film yang mengangkat kisah pelaut amatir Inggris, Donald Crowhurst, yang menghilang saat lomba keliling dunia pada 1968. Film The Mercy karya James Marsh dan Crowhurst yang disutradarai Simon Rumley, keduanya mengangkat tragedi yang sama dengan cara berbeda dan dirilis hampir bersamaan.
Fenomena ini juga terlihat pada film bertema Perang Dunia II di 2017 seperti Dunkirk karya Christopher Nolan dan Darkest Hour yang mengangkat kisah Winston Churchill. Walaupun berbeda sudut pandang, keduanya fokus pada peristiwa Dunkirk yang jarang diangkat ke layar lebar sebelumnya.
Selain kebetulan, ada juga strategi “first to market” yang membuat studio berlomba merilis film bertema sama lebih cepat agar tidak kehilangan pasar. Pada 1998, misalnya, dua film tentang asteroid yang mengancam bumi, Deep Impact dan Armageddon, dirilis hanya berselang dua bulan. Keduanya sukses di box office, namun Armageddon menjadi yang paling populer dengan pendapatan lebih dari 553 juta dolar AS.
Kasus serupa terjadi pada film bencana gunung meletus seperti Dante’s Peak dan Volcano yang juga rilis berdekatan pada akhir 1990-an. Bahkan, di genre komedi romantis, No Strings Attached dan Friends With Benefits yang sama-sama mengisahkan hubungan tanpa komitmen dari dua sahabat, dirilis hampir bersamaan pada 2011 dan meraih pendapatan serupa sekitar 149 juta dolar AS.
Dalam dunia animasi, persaingan twin films sempat memicu kontroversi antara DreamWorks dan Pixar pada 1998. DreamWorks merilis Antz dan Pixar menghadirkan A Bug’s Life hanya selang sebulan. Tuduhan pencurian ide sempat muncul, namun kedua film tetap meraih sukses dengan A Bug’s Life menghasilkan pendapatan box office lebih dari dua kali lipat Antz.
Contoh lain adalah dua film biografi penulis Truman Capote, Capote dan Infamous, yang dirilis berdekatan pada 2006. Meskipun mengangkat periode kehidupan yang sama, Capote yang dibintangi Philip Seymour Hoffman jauh lebih sukses dibanding Infamous.
Fenomena twin films memperlihatkan bagaimana industri film Hollywood bergerak dinamis mengikuti tren dan insting pasar. Meski beberapa proyek terkesan meniru, banyak juga yang mengembangkan cerita dengan pendekatan unik masing-masing. Menariknya, film yang dirilis terakhir tidak selalu kalah, seperti film Big dengan Tom Hanks yang sukses besar meski muncul setelah beberapa film dengan tema serupa.
Kesimpulannya, twin films menjadi bukti bahwa ide serupa bisa muncul bersamaan, namun kualitas eksekusi dan pesan yang disampaikan menentukan film mana yang meninggalkan kesan mendalam di benak penonton. Dinamika ini tetap menjadi bagian menarik dari sejarah perfilman dunia, khususnya di Hollywood.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan