Media KampungAriel Noah Dilan menanggapi komentar netizen setelah penayangan film Dilan ITB 1997, menegaskan tekad memberikan penampilan terbaik meski mendapat sorotan berat. Ia menyatakan bahwa tekanan merupakan bagian alami dari peran ikonik yang diemban.

Acara “Nonton Bareng Dilan ITB 1997” digelar pada 30 April 2026 di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, dan dihadiri ribuan penonton yang antusias menyaksikan interpretasi baru Dilan. Pada sesi tanya jawab, Ariel menjelaskan rasa gugup dan harapannya agar penonton menikmati versi karakternya.

“Kalau beban itu pasti ada. Cuman kan ya itu namanya juga peran,” ujar Ariel Noah dalam wawancara usai pemutaran. Ia menambahkan, “Saya rasa beban itu sama seperti yang dirasakan aktor yang memerankan Batman atau Superman, karena karakter itu sudah melekat di hati publik.”

Ariel menegaskan bahwa ia tidak berusaha menciptakan Dilan yang sama sekali baru, melainkan menyerap sifat Dilan dari kehidupan sehari-hari di Bandung. Ia mengamati kebiasaan motor, bahasa, dan gaya hidup pemuda Bandung untuk memberi nuansa realistis pada peran.

Sutradara Fajar Bustomi dan penulis Pidi Baiq memberikan kebebasan penuh kepada Ariel dalam mengembangkan karakter. Kedua kreator menyatakan dukungan penuh dan percaya bahwa pendekatan observatif Ariel akan menghasilkan Dilan yang autentik dan relevan.

Sebelumnya, peran Dilan pernah diemban oleh Arbani Yasiz dalam Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 (2024) dan Iqbaal Ramadhan pada adaptasi pertama. Ariel mengakui tantangan menggantikan wajah-wajah tersebut, namun ia menekankan bahwa setiap aktor membawa perspektif uniknya masing‑masing.

Ekspektasi penonton telah terbentuk sejak adaptasi pertama, sehingga Ariel memilih bersikap santai terhadap kritik. Ia berpendapat bahwa karakter Dilan kini milik publik, sehingga penilaian akhir tetap berada di tangan penonton.

Untuk memperdalam peran, Ariel menghabiskan waktu berinteraksi dengan teman‑teman dari komunitas motor Bandung dan mempelajari logat lokal. Ia menyatakan, “Saya banyak belajar tentang cara berbicara dan gerak‑gerik orang Bandung, supaya karakter terasa hidup di layar.”

Co‑star Niken Anjani yang memerankan Ancika juga berkontribusi pada proses pembelajaran Ariel. Kedua aktor melakukan sesi reading intensif, yang membantu mereka membangun chemistry alami di depan kamera.

Film Dilan ITB 1997 menampilkan Dilan yang lebih dewasa, beralih dari gombalan khas ke aksi yang lebih matang. Ariel menjelaskan, “Versi Dilan kali ini lebih reflektif, karena latar cerita menempatkannya di tahun 1997 yang penuh dinamika sosial.”

Setelah dirilis, film memperoleh respons positif dari penonton yang menghargai pendekatan realistis Ariel Noah Dilan. Kritik menyoroti keberhasilan aktor dalam menyeimbangkan ciri khas Dilan dengan nuansa modern.

Saat ini, Dilan ITB 1997 sedang diputar di berbagai bioskop nasional, dan Ariel terus menerima undangan talkshow untuk membahas proses aktingnya. Ia menegaskan komitmen untuk terus belajar dan memberikan kontribusi terbaik bagi industri perfilman Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.