Media Kampung – Pelantikan 16 dokter baru dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menyimpan cerita perjuangan yang mengharukan, mulai dari anak pedagang kecil hingga putri tenaga kesehatan desa, semuanya berjuang menembus kerasnya pendidikan kedokteran demi memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Salah satu cerita yang menarik datang dari Benta Malika El Ghameela, yang merupakan dokter pertama di keluarganya yang berasal dari pedagang kecil di Madura. Setiap kali menghadapi ujian, ibunya rutin membaca Surat Yasin dari rumah sebagai bentuk doa dan dukungan. Ritual ini menjadi semacam ‘jimat’ bagi Benta sampai ia menyelesaikan ujian dan mengabari ibunya melalui pesan singkat. Benta mengenang bahwa saat pandemi Covid-19, usaha fotokopi milik keluarganya hampir berhenti dan orang tuanya beralih berjualan pakaian demi membiayai kuliah kedokterannya. Ia menegaskan bahwa karena orang tuanya tidak pernah mengeluh soal biaya, dirinya juga tidak boleh mengeluh soal pendidikan.

Kisah lain datang dari Via Dwi Alfiana, perempuan asal Desa Sengkol, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat yang merupakan putri seorang perawat dan bidan. Via mengungkapkan keinginannya untuk mengabdi di daerah asalnya yang masih minim akses layanan kesehatan. Selama menempuh pendidikan kedokteran di Surabaya, ia harus menghadapi tekanan akademik yang berat dan berjauhan dari keluarga, namun dukungan keluarga menjadi modal utama yang membuatnya bertahan hingga akhirnya resmi disumpah sebagai dokter.

Sementara itu, Atika Salsabillah Zein memiliki latar belakang keluarga dokter. Sebagai putri dari dr. H. Moh. Zainuddin, Sp.Rad., Atika tumbuh dalam lingkungan yang mendukung tanpa tekanan akademik berlebihan. Ia berpesan agar tidak berkecil hati jika masa studi sedikit lebih panjang karena tujuan akhirnya tetap sama, yaitu menjadi dokter. Saat ini, Atika berambisi melanjutkan pendidikan spesialis dermatologi dan mengembangkan produk skincare berbasis ilmu kedokteran.

Tiga kisah dokter muda Unusa ini menunjukkan bahwa meskipun berasal dari latar belakang berbeda, mereka memiliki kesamaan dalam ketekunan, dukungan keluarga, dan semangat untuk mengabdi kepada masyarakat. Perjalanan mereka menjadi contoh nyata bahwa cita-cita besar dapat diraih melalui kerja keras dan doa yang tulus.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.