Media Kampung – Keputusan Sony Interactive Entertainment untuk tidak menerbitkan game Demons Souls di Amerika Utara menjadi titik balik penting dalam sejarah video game, yang berujung pada kesuksesan franchise Dark Souls yang kini terkenal secara global.

Shuhei Yoshida, mantan eksekutif Sony, mengungkapkan bahwa Sony hanya menerbitkan Demons Souls di Jepang karena pada awal rilis, game tersebut diperkirakan tidak akan menutup biaya pengembangan. Pengiriman awal Demons Souls di Jepang hanya sebanyak 20.000 kopi, dan Sony menilai game ini terlalu sulit dan tidak ramah bagi pemain, berdasarkan pengalamannya mencoba game tersebut sebelum peluncuran pada 2008.

Baca juga:

Namun, Demons Souls kemudian mendapat sambutan positif dan penjualan yang kuat di Jepang. Kesuksesan ini menarik perhatian Bandai Namco dan Atlus untuk mengambil alih distribusi game tersebut di wilayah lain, termasuk Amerika Utara dan Eropa.

Akibat keputusan Sony yang menolak mempublikasikan Demons Souls di Amerika Utara, FromSoftware akhirnya bekerja sama dengan Bandai Namco untuk merilis Dark Souls pada tahun 2011. Sony sempat menawarkan diri untuk menerbitkan Dark Souls, tetapi FromSoftware menolak karena kekecewaan atas ketidaksupportan Sony pada Demons Souls. Bandai Namco pun mengambil kesempatan itu dan menjadi penerbit seri Dark Souls, serta proyek besar lainnya seperti Elden Ring dan Armored Core.

Baca juga:

Meskipun Sony kehilangan kesempatan menjadi penerbit eksklusif Dark Souls, mereka mendapatkan kesempatan lain dengan Bloodborne pada 2015, yang tetap menjadi game eksklusif untuk PlayStation 4. Shuhei Yoshida menyatakan bahwa ketidakterlibatan Sony sejak awal mungkin justru memberikan hasil yang lebih baik bagi industri game dan para pemain.

Keputusan tersebut juga berdampak pada platform game, di mana Dark Souls dan sekuelnya dapat dinikmati di berbagai platform termasuk PC, memperkaya pengalaman para gamer di luar ekosistem PlayStation.

Baca juga: