Media Kampung – Seorang jurnalis dan gamer dengan pengalaman lebih dari 40 tahun dalam dunia game mengungkapkan keprihatinannya terhadap platform Roblox yang ia nilai perlu mendapat regulasi ketat. Ia menyoroti bagaimana Roblox dirancang dengan mekanisme monetisasi yang mengeksploitasi pemain anak-anak, sehingga berdampak negatif bagi pengguna muda.

Pengalaman ini bermula ketika sang jurnalis, yang juga seorang ayah, memantau anaknya yang berusia tujuh tahun mulai tertarik bermain Roblox. Meskipun awalnya enggan, akhirnya ia membiarkan anaknya mencoba dengan berbagai pengaturan keamanan yang maksimal, termasuk memblokir komunikasi dengan pengguna lain dan mengaktifkan filter konten. Namun, ia segera menyadari bahwa fitur pengamanan tersebut hanya menangani sebagian masalah.

Dalam permainan seperti 99 Nights in the Forest, sang anak menemukan dorongan untuk melakukan pembelian dalam game, seperti fitur ‘self-revive’ yang hanya bisa diakses dengan mata uang virtual Robux. Sistem ini menggunakan berbagai lapisan mata uang dan taktik psikologis seperti pop-up dan hitungan mundur untuk mendorong pembelian, yang menurut sang jurnalis sangat tidak pantas untuk anak-anak.

Penelitian oleh tim akademisi dari Universitas Sydney juga mendukung temuan ini dengan menunjukkan adanya praktik monetisasi yang menyesatkan di hampir seluruh game populer di Roblox. Studi tersebut mengungkapkan penggunaan trik seperti visual ‘near miss’ dan tekanan waktu yang menciptakan rasa urgensi palsu, sehingga anak-anak terdorong untuk terus mengeluarkan uang.

Perbandingan dengan Minecraft yang dikelola oleh Microsoft menunjukkan perbedaan signifikan dalam pendekatan monetisasi. Minecraft menawarkan model yang lebih transparan dan tidak menekan pemain muda dengan taktik psikologis yang mengelabui. Hal ini menegaskan bahwa eksploitasi pengguna anak-anak bukanlah suatu keharusan dalam industri game.

Kampanye dari organisasi perlindungan anak seperti Fairplay dan National Centre on Sexual Exploitation telah mengajukan keluhan resmi kepada Federal Trade Commission mengenai praktik Roblox yang dinilai tidak adil dan menyesatkan. Mereka menyoroti bagaimana fitur kompleks dan sistem mata uang berlapis sulit dipahami oleh anak-anak sehingga memicu konsumsi impulsif yang merugikan.

Seorang perwakilan Fairplay menyatakan bahwa meskipun orang tua berusaha melindungi anak-anak mereka, platform Roblox dirancang untuk mengambil keuntungan dari kebutuhan perkembangan dan kerentanan anak-anak. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari organisasi Raise yang menyebut perlunya kesadaran lebih luas serta intervensi legislatif untuk mengatasi fitur adiktif dan bermasalah dalam game.

Roblox Corporation sendiri menyatakan bahwa platform mereka dibangun untuk kesenangan dan koneksi sosial, bukan hanya untuk menarik keterlibatan jangka pendek. Namun, klaim tersebut dianggap tidak sesuai dengan praktik nyata yang terjadi di dalam game.

Fenomena ini menjadi perhatian serius karena banyak anak yang tidak hanya terjebak dalam sistem pembelian yang rumit tetapi juga menjadi korban penipuan antar pengguna, yang semakin memperburuk pengalaman bermain mereka. Jurnalis tersebut menegaskan bahwa platform seperti Roblox, yang memanfaatkan anak-anak secara finansial, memerlukan tindakan pemerintah agar regulasi bisa melindungi pengguna muda dari dampak negatif tersebut.

Kesimpulannya, menurut pengalaman dan pengamatan jurnalis sekaligus ayah ini, Roblox sebagai platform game sangat membutuhkan pengawasan dan regulasi ketat agar anak-anak bisa menikmati dunia game tanpa harus menghadapi jebakan monetisasi yang merugikan dan menimbulkan kebingungan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.