Media Kampung – Ken Levine, kreator di balik seri Bioshock, mengungkapkan bahwa kekhawatirannya terkait konten bercabang dalam game terbarunya, Judas, hilang setelah mengalami kejadian tak terduga dalam Baldur’s Gate 3. Dalam playthrough keduanya, Levine menyaksikan salah satu karakter utama mati secara permanen, sebuah pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap desain narasi bercabang.
Levine menjelaskan bahwa selama memainkan Baldur’s Gate 3, ia menyadari kekuatan cerita yang sangat reaktif terhadap pilihan pemain. Ia bercerita bahwa pada percobaan kedua, sebuah karakter yang ia kenal dari permainan sebelumnya tiba-tiba tewas di awal permainan dan tubuhnya terlihat jelas. Hal ini sangat berkesan bagi Levine hingga menghilangkan rasa khawatirnya soal pemain mungkin melewatkan bagian-bagian penting dalam game Judas.
Pengalaman tersebut menegaskan bagi Levine bahwa game dapat tetap mengalir meskipun pemain tidak melihat seluruh konten secara langsung pada satu kali permainan. “Itu sangat kuat untuk dilihat sehingga frustrasi saya terhadap pemain yang tidak melihat semuanya langsung berubah menjadi antusiasme menunggu mereka menyadari hal besar yang mungkin mereka lewatkan,” ujarnya.
Levine juga mengungkapkan bahwa ide untuk membuat karakter Elizabeth yang lebih responsif dalam Bioshock Infinite menginspirasi konsep Judas. Ia membayangkan karakter yang bereaksi terhadap tindakan pemain secara langsung, seperti Elizabeth yang bisa menolak pemain jika melihat kekerasan berlebihan. Konsep ini membawa Levine pada gagasan game yang sangat reaktif dengan banyak konten tersembunyi yang baru akan ditemukan melalui berbagai playthrough.
Judas sendiri telah mulai dikembangkan sejak sepuluh tahun lalu, dan Levine menganggap Baldur’s Gate 3 sebagai contoh modern terbaik dalam mengelola narasi bercabang dengan kematian karakter utama yang bisa terjadi kapan saja tanpa merusak alur cerita keseluruhan. Hal ini menjadi tolok ukur baru bagi Levine dalam membangun game yang kaya akan pilihan dan konsekuensi.
Dengan pengalaman tersebut, Levine semakin yakin bahwa game masa depan perlu menghadirkan kebebasan yang lebih besar bagi pemain untuk mengeksplorasi cerita secara berbeda pada setiap permainan ulang, sehingga memberikan pengalaman yang unik dan segar setiap kali dimainkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan