Media Kampung – Foto terbaru memperlihatkan Selat Hormuz kembali ditutup setelah pihak AS dan Iran menuduh pelanggaran gencatan senjata.

Kejadian ini terjadi pada Senin, 20 April 2026, di perairan lepas pantai Musandam, Oman.

Beberapa kapal nelayan lokal dan tanker berukuran besar tampak berlabuh di zona penutup.

Foto yang diambil oleh Reuters menampilkan siluet kapal-kapal tersebut di atas air yang tenang.

Penutupan selat dimulai kurang dari 24 jam setelah Iran membuka akses penuh pada hari sebelumnya.

Pihak militer Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan terhadap kapal dagang melanggar perjanjian gencatan.

“Kami menegaskan bahwa pelanggaran ini tidak dapat diterima,” ujar juru bicara militer AS dalam konferensi pers.

Iran juga mengeluarkan pernyataan serupa, menuduh pihak lain mengintimidasi wilayahnya.

Pengawasan udara dan laut telah ditingkatkan dengan penempatan pesawat patroli dan kapal perang.

Selat Hormuz menyumbang sekitar tiga persen volume minyak dunia yang melewati jalur ini setiap hari.

Penutupan kembali mengakibatkan penundaan pengiriman minyak ke pasar internasional.

Beberapa perusahaan logistik melaporkan kenaikan biaya asuransi akibat risiko keamanan yang meningkat.

Para pedagang komoditas memperkirakan fluktuasi harga minyak mentah dalam beberapa minggu mendatang.

Sejumlah analis energi menilai bahwa situasi ini dapat memicu ketidakstabilan harga energi global.

Pemerintah Oman menegaskan komitmennya untuk menjaga keselamatan navigasi di wilayahnya.

Sementara itu, kapal-kapal yang berada di area penutup diinstruksikan untuk tetap berada di posisi aman.

Para nelayan setempat melaporkan gangguan pada operasi penangkapan ikan tradisional mereka.

Penutupan Selat Hormuz juga memengaruhi rute pelayaran barang-barang konsumen antara Asia dan Eropa.

Beberapa kapal kargo memilih untuk beralih ke jalur sekitar Teluk Persia, menambah waktu tempuh.

Keputusan tersebut meningkatkan konsumsi bahan bakar dan biaya operasional bagi perusahaan pelayaran.

Pengamat geopolitik menilai bahwa konflik antara AS dan Iran dapat memperpanjang ketegangan di kawasan Teluk.

Hubungan diplomatik kedua negara telah mengalami kemerosotan sejak perjanjian nuklir tahun 2021.

Dalam konteks ini, Selat Hormuz tetap menjadi simbol strategis kekuasaan maritim.

Negara-negara lain, termasuk Inggris dan Prancis, menyuarakan keprihatinan atas potensi eskalasi militer.

Mereka menyerukan dialog multilateral untuk menghindari gangguan lebih lanjut.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional.

Sejumlah negara anggota IMO mengirim perwakilan ke pertemuan darurat yang dijadwalkan minggu ini.

Foto-foto yang diunggah oleh Reuters menunjukkan kapal tanker berlabel “oil” berlabuh dekat pelabuhan kecil.

Beberapa kapal tersebut dilengkapi dengan sistem pertahanan diri terhadap serangan potensial.

Penggunaan sistem radar canggih membantu otoritas memantau pergerakan kapal secara real time.

Para ahli maritim menekankan pentingnya koordinasi antara negara-negara pesisir untuk mencegah insiden serupa.

Penutupan Selat Hormuz kini diperkirakan akan berlangsung hingga kondisi diplomatik membaik.

Pengamat keamanan maritim menilai bahwa langkah ini merupakan sinyal kuat bagi pihak-pihak yang terlibat.

Keputusan penutupan menambah tekanan pada upaya negosiasi gencatan senjata yang masih berlangsung.

Kondisi terbaru menunjukkan kapal-kapal masih menunggu izin untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.