Media Kampung – Debut penyutradaraan Edy Khemod dalam film panjang berjudul Operasi Pesta Copet menghadirkan konsep unik yang terinspirasi langsung dari pengalaman nyata di dunia musik. Edy, yang juga dikenal sebagai drummer band Seringai, menemukan ide cerita filmnya dari fenomena copet yang kerap terjadi di konser bandnya, khususnya saat tur di Solo yang memperlihatkan aksi copet terorganisir dari Jakarta.
Melalui film drama komedi ini, yang diproduksi oleh rumah produksi Imajinari dengan produser Ernest Prakasa, Edy ingin mengangkat sisi manusiawi dari para pencopet yang selama ini hanya dikenal sebagai pengganggu keramaian. Ia menyoroti pertanyaan sosial mengenai latar belakang para copet, apakah mereka bagian dari komunitas musik yang terdorong kebutuhan ekonomi atau hanya pelaku kejahatan jalanan yang belajar dari lingkungan musik.
Proses produksi Operasi Pesta Copet berjalan dengan penuh tantangan dan inovasi. Syuting dilakukan di tengah festival musik asli Pestapora 2025, dengan persiapan matang dan melibatkan sekitar 500 figuran agar suasana festival terekam secara autentik. Pengambilan gambar menggunakan kamera analog pun dipilih untuk mempertahankan nuansa natural yang sesuai dengan identitas Edy Khemod sebagai musisi.
Ernest Prakasa menyebut proyek ini sebagai salah satu produksi Imajinari yang paling nekat, mengingat pengambilan gambar di tengah keramaian festival dengan puluhan ribu penonton. Ernest juga mengapresiasi kejujuran dan keberanian Edy dalam menyampaikan pesan sosial terkait kemiskinan struktural yang memicu seseorang terjerumus ke dunia kejahatan.
Judul film ini sempat mengalami perubahan dari Operasi Pesta Pora menjadi Operasi Pesta Copet. Keputusan ini diambil agar fokus cerita mengenai pencopetan lebih menonjol dan langsung dapat dipahami publik. Meski sempat ada kekhawatiran mengenai reaksi pihak festival, penggagas Pestapora, Kiki Aulia Ucup, justru menyambut baik ide tersebut.
Operasi Pesta Copet dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, dan Kawai Labiba yang berperan sebagai komplotan copet di tengah keramaian festival. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026 dan menjadi perayaan unik dari kultur festival musik serta isu sosial di Indonesia.
Dengan latar festival musik terbesar Indonesia dan cerita yang menggugah, film ini tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak penonton memahami kompleksitas sosial di balik fenomena pencopetan di konser musik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan