Media Kampung – Film horor supernatural terbaru berjudul Leviticus menggunakan metafora demonik untuk mengkritik praktik terapi konversi yang masih marak di berbagai belahan dunia. Disutradarai oleh Adrian Chiarella, film ini mengisahkan dua remaja lelaki di kota industri kecil Australia yang menjalin hubungan rahasia. Ketika hubungan mereka terbongkar, orang tua dan komunitas gereja memaksa mereka menjalani eksorsisme untuk ‘mengusir setan’ homoseksualitas. Alih-alih sembuh, mereka justru dihantui oleh sosok doppelgänger yang mematikan.
Film ini akan tayang di bioskop-bioskop Amerika Serikat mulai 19 Juni 2026 melalui distributor NEON. Leviticus dibintangi oleh Joe Bird sebagai Naim, seorang remaja pemalu yang pindah ke kota bersama ibunya Arlene (diperankan Mia Wasikowska), seorang Kristen yang taat. Naim diam-diam menjalin hubungan dengan teman sekelasnya, Ryan (Stacy Clausen). Setelah ketahuan, mereka berdua dibawa ke seorang ‘Penyembuh Pelepasan’ (Nicholas Hope) yang melakukan ritual pengusiran setan. Pendeta setempat (Ewen Leslie) menyebutnya sebagai penyembuhan, namun kenyataannya justru menjadi kutukan.
Pasca ritual, Naim mulai melihat sosok yang persis mirip Ryan, tetapi dengan satu perbedaan besar: makhluk itu terus menyerang Naim hingga salah satu dari mereka mati. Sementara itu, Ryan juga mengalami hal serupa dan percaya bahwa Naim ingin membunuhnya. Alur ini mengingatkan pada film It Follows (2014) karya David Robert Mitchell, yang juga memiliki aturan serupa dalam melawan doppelgänger mematikan. Meskipun kemiripan tersebut menjadi titik lemah, Leviticus berhasil menonjolkan temanya dengan kuat.
Sinematografi film ini, dengan langit mendung dan komposisi klaustrofobik, memberikan nuansa horor ‘elevated’ yang populer di era 2010-an, mirip dengan film The Babadook asal Australia. Namun, yang membuat Leviticus istimewa adalah metafora yang kokoh di pusat ceritanya. Film ini secara efektif menangkap psikologi remaja yang berada di dalam lemari (closeted) dalam keluarga yang tidak menerima. Rasa bersalah dan ketakutan bahwa cinta mereka akan ‘mencemari’ orang-orang terdekat diekspresikan melalui adegan-adegan mengerikan di mana remaja queer dibantai secara berdarah-darah. Meskipun berat, film ini dianggap katarsis bagi penonton LGBTQIA dewasa yang melihat cerminan masa lalu mereka sendiri.
Kritik paling tajam film ini ditujukan kepada orang tua yang lebih mementingkan penerimaan sosial daripada cinta kepada anak-anak mereka. Leviticus menjadi kecaman kuat terhadap terapi konversi, praktik pseudosains yang didorong oleh agama dan terbukti berbahaya. Meskipun terapi konversi telah dilarang di sebagian besar Australia dan 22 negara bagian AS, belum semua negara bagian melarangnya. Dengan bangkitnya konservatisme agama sayap kanan secara global, semakin banyak anak yang rentan terhadap siksaan psikologis yang digambarkan secara metaforis dalam film ini. Leviticus hadir untuk mereka.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan