Media Kampung – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) meresmikan kembali Rumah Kolaborasi dan Konsultasi Iklim dan Karbon (RKKIK) sebagai langkah strategis mempercepat pencapaian target iklim nasional dan implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa tantangan perubahan iklim tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan generasi muda.

Menurut Jumhur, keberhasilan agenda iklim tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem kolaborasi yang menghubungkan pengetahuan, data, sumber daya, dan aksi nyata di lapangan. RKKIK akan berfungsi sebagai ruang bersama bagi para pemangku kepentingan untuk berdiskusi, berkonsultasi, berbagi pengalaman, dan membangun sinergi guna mendukung target iklim Indonesia.

Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim KLH/BPLH Ary Sudijanto menjelaskan bahwa operasionalisasi RKKIK didasarkan pada Keputusan Menteri LHKepala BPLH Nomor 2211 Tahun 2026 yang ditetapkan pada 1 Juni 2026. RKKIK diharapkan menjadi instrumen penting dalam memperkuat implementasi kebijakan iklim dan karbon, termasuk pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

RKKIK akan menyediakan berbagai layanan, mulai dari konsultasi, peningkatan kapasitas, advokasi, hingga pendampingan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Layanan juga mencakup implementasi Nilai Ekonomi Karbon, Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI), dan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).

Selain itu, RKKIK menghadirkan sejumlah program seperti Pojok Iklim, Climate Clinic, Cengkrama Iklim, dan National Carbon Forum untuk memperluas akses informasi serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam aksi iklim nasional. Pemerintah berharap kehadiran kembali RKKIK dapat memperkuat sinergi multipihak dalam menghadirkan solusi konkret menghadapi krisis iklim dan mendukung transisi Indonesia menuju pembangunan rendah karbon yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.