Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami pergerakan yang variatif dalam perdagangan hari ini di Bursa Efek Indonesia. Pada penutupan perdagangan Rabu kemarin, IHSG mengalami pelemahan sebesar 0,82 persen dan ditutup pada level 6.318,50.

Pelemahan indeks tersebut sejalan dengan aksi jual saham yang dilakukan oleh investor asing dengan nilai sebesar Rp131 miliar. Saham-saham yang menjadi fokus penjualan investor asing antara lain Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), serta saham dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Amman Mineral Nusa Tenggara Tbk (AMMN), dan PT Dasa Multi Solusindo Agracindo Tbk (DSSA).

Tim analis tersebut menyoroti sejumlah sentimen domestik yang berpengaruh terhadap pergerakan pasar, salah satunya adalah pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR pada Rabu kemarin. Dalam pidatonya, Presiden menetapkan target defisit anggaran untuk tahun 2027 sebesar 1,8 sampai 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, asumsi makro ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 juga diumumkan, dengan target pertumbuhan ekonomi antara 5,8 hingga 6,5 persen, inflasi pada rentang 1,5 hingga 3,5 persen, serta nilai tukar rupiah yang diperkirakan berkisar antara Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Selain itu, pemerintah mengumumkan kebijakan baru yang mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk sebagai pengekspor tunggal. Aturan ini akan diterapkan terlebih dahulu pada komoditas minyak sawit (CPO), batu bara, dan paduan besi. Kebijakan tersebut diperkirakan membuat para investor mengambil sikap menunggu dan melihat (wait and see) terkait asumsi RAPBN 2027 serta kebijakan ekspor sumber daya alam tersebut.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, yang merupakan kenaikan pertama sejak April 2024 dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebelumnya sebesar 5 persen. Langkah BI ini bertujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meredam risiko inflasi, serta menjaga inflasi dalam target pemerintah.

Namun, Tim Analis Phintraco juga mengingatkan agar pelaku pasar mencermati dampak lanjutan dari kenaikan suku bunga ini terhadap pergerakan rupiah serta potensi efek negatifnya pada sektor properti dan perusahaan-perusahaan yang memiliki utang besar. Kondisi tersebut menjadi faktor tambahan yang membuat pasar bersikap hati-hati pada perdagangan hari ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.