Media Kampung – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perlunya percepatan perjanjian dagang dengan Uni Eropa dan Kanada untuk mengangkat daya saing ekspor Indonesia.

Airlangga tiba di Masjid Salahuddin Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, pada Sabtu 21 Maret 2026 menjelang salat Idul Fitri, kemudian memimpin konferensi pers pada Selasa 5 Mei.

Dalam konferensi pers, ia menyampaikan bahwa pemerintah berupaya membuka pasar lebih luas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Langkah‑langkah pemerintah terkait dengan ekspor tentu salah satunya adalah di dalam ketidakpastian ini membuka pasar lebih luas,” ujar Airlangga.

Data Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor pada Maret 2026 turun 3,10 % menjadi US$ 22,53 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun pada kuartal pertama 2026, total ekspor meningkat tipis 0,34 % menjadi US$ 66,85 miliar, menandakan pergerakan yang masih lemah.

Impor pada periode yang sama melonjak 10,05 % menjadi US$ 61,30 miliar, menambah tekanan pada neraca perdagangan.

Airlangga menekankan bahwa perluasan pasar melalui perjanjian dagang menjadi solusi untuk menyeimbangkan neraca tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa proses ratifikasi Indonesia‑European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU‑CEPA) sedang dalam tahap akhir, termasuk terjemahan dokumen ke 22 bahasa resmi Uni Eropa.

“Jika proses terjemahan selesai, kami berharap pasar Eropa dapat terbuka pada 1 Januari tahun depan dengan bea masuk nol,” harapnya.

Sementara itu, Indonesia juga memperkuat Free Trade Agreement (FTA) dengan Kanada serta menjajaki Economic Growth Partnership dengan Inggris yang berpotensi berubah menjadi FTA.

“Kita sudah punya FTA, dan dengan adanya ketidakpastian antara Kanada dengan berbagai negara lain, peran Indonesia semakin penting,” kata Airlangga.

Ia menambahkan bahwa beberapa produk Indonesia kini dapat masuk pasar Kanada tanpa hambatan tarif tinggi.

Airlangga akan menghadiri ASEAN Economic Ministerial Meeting besok, dimana agenda utama meliputi respons ASEAN terhadap krisis energi dan pangan.

Diskusi juga mencakup pembentukan strategic petroleum reserve dan strategic pangan reserve di tingkat regional.

Hasil rekomendasi akan disampaikan kepada kepala negara ASEAN pada pertemuan puncak Jumat mendatang.

Percepatan perjanjian dagang dengan Uni Eropa dan Kanada diharapkan dapat menstimulasi sektor manufaktur, pertanian, dan layanan yang selama ini bergantung pada pasar domestik.

Penguatan FTA juga diyakini dapat meningkatkan daya tarik investasi asing, khususnya di sektor logistik dan teknologi.

Dengan pasar Eropa terbuka tanpa tarif, produsen kecil menengah Indonesia berpotensi menembus rantai pasok global yang lebih luas.

Namun, keberhasilan implementasi tetap bergantung pada sinkronisasi regulasi, standar kualitas, dan kemampuan logistik domestik.

Airlangga menutup konferensi dengan menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat proses legislasi dan memastikan semua pemangku kepentingan terlibat aktif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.