Media Kampung – SAKA Pesantren meminta aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus kekerasan yang menimpa santri di Pati, Jawa Tengah, setelah korban dilaporkan menjadi tersangka namun belum ditahan. Organisasi anti‑kekerasan di lingkungan pesantren tersebut menegaskan pentingnya penegakan hukum untuk melindungi korban dan menjaga integritas lembaga pendidikan agama.

Kasus dimulai ketika sejumlah santri di sebuah pesantren di Pati melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak internal. SAKA Pesantren kemudian berkoordinasi dengan RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah), Pengurus Cabang NU (PCNU) serta Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah untuk mengawal proses penyelidikan di tingkat kepolisian. Pada Senin 4 Mei 2026, tim PCNU melakukan pertemuan dengan Kapolres setempat di Gedung PBNU, Jakarta, guna memberikan dukungan agar penyidikan berjalan cepat.

Nyai Alissa Wahid, penanggung jawab SAKA Pesantren, menyampaikan, “Hari ini tim di PCNU juga bertemu dengan Kapolres untuk memberikan dukungan kepada Kapolres agar segera menyelesaikan pemeriksaan hukumnya, penegakan hukumnya. Karena sudah menjadi tersangka, namun belum ditahan.” Pernyataan tersebut menegaskan keprihatinan organisasi terhadap lambatnya proses penahanan pelaku.

SAKA Pesantren menekankan bahwa dukungan moral kepada kepolisian sangat penting agar tidak ada keraguan dalam menegakkan hukum. PBNU menilai bahwa ketegasan aparat tidak hanya melindungi korban, tetapi juga menjaga kredibilitas pesantren sebagai institusi pendidikan Islam. “Kita ingin memberikan dukungan kepada pihak kepolisian bahwa penegakan hukum ini penting bagi korban maupun bagi keadilan masyarakat. Dari sisi pesantren, tentu saja kami ingin menunjukkan bahwa dunia pesantren juga tidak menginginkan kejadian seperti ini. Kami menolak perilaku‑perilaku kejahatan seperti ini,” tambah Nyai Alissa.

Sementara proses hukum masih berjalan, SAKA Pesantren merencanakan pertemuan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) untuk membahas langkah‑langkah preventif. Fokusnya adalah menyusun mekanisme perlindungan bagi korban kekerasan serupa, tidak hanya di Pati tetapi juga di wilayah lain, termasuk kasus terbaru di Bogor yang mendapat sorotan publik.

Latar belakang kasus ini mencerminkan tantangan yang dihadapi pesantren dalam mengelola keamanan internal. Meskipun pesantren berperan penting dalam pembinaan karakter santri, insiden kekerasan dapat merusak reputasi dan menimbulkan keraguan publik. Oleh karena itu, koordinasi antara lembaga keagamaan, lembaga sosial, dan aparat penegak hukum menjadi krusial untuk memastikan keadilan serta pencegahan di masa depan.

Hingga saat artikel ini ditulis, pihak kepolisian belum mengumumkan penahanan resmi terhadap tersangka. Namun, SAKA Pesantren tetap menuntut percepatan proses hukum dan menegaskan bahwa mereka akan terus memantau perkembangan kasus melalui jaringan relawan dan mitra terkait. Organisasi berharap keputusan yang tegas dapat menjadi contoh bagi pesantren lain dalam menanggapi dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Jika proses penegakan hukum berjalan sesuai harapan, diharapkan pesantren di Pati dapat kembali fokus pada tugas utama pendidikan dan pembinaan spiritual tanpa gangguan kekerasan. SAKA Pesantren menutup pernyataannya dengan harapan agar semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga keagamaan, bersatu dalam upaya melindungi santri dari bahaya kekerasan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.