Media Kampung – Pengeluaran menjadi sorotan utama baik di level nasional maupun rumah tangga, dengan Kementerian Keuangan menyoroti restitusi pajak sebesar Rp 25 triliun serta pakar keuangan mengajukan langkah praktis mengendalikan belanja keluarga.
Kementerian Keuangan (Menkeu) pada konferensi pers pekan ini mengumumkan bahwa pemerintah berhasil mengumpulkan kembali pajak yang belum dibayarkan senilai Rp 25 triliun melalui program restitusi, sekaligus memberhentikan dua pejabat yang terlibat dalam penyalahgunaan anggaran.
“Kami berkomitmen menegakkan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara, dan restitusi ini merupakan bukti nyata upaya kami memaksimalkan penerimaan pajak,” ujar Menteri Keuangan dalam penyampaiannya.
Restitusi tersebut diharapkan menambah ruang fiskal untuk mendanai program pembangunan, terutama di masa pemulihan ekonomi pasca‑pandemi, serta menurunkan defisit anggaran yang selama ini menjadi beban pengeluaran negara.
Sementara itu, di ranah rumah tangga, pakar keuangan Certified Financial Planner (CFP) Mike Rini menekankan pentingnya mengendalikan pengeluaran harian agar keluarga tidak terjebak dalam utang konsumtif.
Mike Rini, yang memimpin seminar “Reconnect: Building Meaning in Every Family Choice” di Jakarta Selatan, mencontohkan enam langkah sederhana untuk menerapkan konsumsi sadar, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan hingga melacak semua transaksi selama sebulan.
“Kesadaran saat mengeluarkan uang adalah kunci; sebelum membeli, tanyakan apakah barang tersebut memang diperlukan atau sekadar keinginan sesaat,” kata Rini kepada peserta.
Langkah pertama yang ia sarankan ialah mengidentifikasi secara jelas antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), misalnya menilai apakah pakaian kerja dibutuhkan karena fungsi atau hanya untuk menambah citra sosial.
Selanjutnya, ia mengajak keluarga mencatat setiap pengeluaran selama 30 hari, sehingga pola pengeluaran dapat terungkap dan area‑area pemborosan dapat dipotong.
Penggunaan alat pembayaran digital juga menjadi fokus, karena kemudahan transaksi seringkali menurunkan rasa kontrol; Rini menyarankan batas harian atau mingguan pada dompet digital.
Tak kalah penting, ia menekankan peran orang tua dalam menularkan nilai “caring” dan “keteraturan” kepada anak, dengan memberi contoh nyata mengelola uang saku secara terstruktur.
Dengan menggabungkan kebijakan fiskal yang menekan pengeluaran tidak produktif di tingkat negara dan praktik pengelolaan uang yang disiplin di tingkat rumah tangga, diharapkan beban keuangan dapat ditekan dan kesejahteraan meningkat.
Data terbaru menunjukkan bahwa setelah restitusi, kas negara meningkat sekitar 2,1 persen, sementara survei keluarga yang mengikuti program pelatihan Rini melaporkan penurunan pengeluaran tidak penting hingga 15 persen dalam tiga bulan pertama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan