Media Kampung – Cadangan emas dunia mengalami peningkatan signifikan seiring tren de‑dolarisasi, sementara Deutsche Bank memproyeksikan harga emas naik 80 persen dalam lima tahun ke depan.
Bank investasi Jerman menilai ketidakpastian geopolitik dan fragmentasi ekonomi global mendorong negara‑negara mengalihkan sebagian cadangan devisa ke logam mulia sebagai lindung nilai.
Laporan terbaru yang dirilis pada 27 April 2026 mencatat bahwa bank‑bank sentral menambah lebih dari 225 juta ons emas sejak krisis keuangan 2008.
Penambahan tersebut mencerminkan strategi melindungi perekonomian dari risiko sanksi Barat dan volatilitas pasar internasional.
Data menunjukkan bahwa proporsi emas dalam cadangan global dapat naik dari sekitar 30 persen saat ini menjadi hampir 40 persen bila tren berlanjut.
Perubahan struktur cadangan ini mengurangi dominasi dolar AS, yang kepemilikannya turun dari lebih dari 60 persen pada awal 2000‑an menjadi sekitar 40 persen saat ini.
Negara‑negara besar seperti China, Rusia, India, dan Turki tetap menjadi pembeli utama, namun beberapa negara Teluk dan Asia Tengah juga meningkatkan akuisisi emas.
Contohnya Kazakhstan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, serta Uni Emirat Arab melaporkan pembelian emas untuk memperkuat stabilitas moneter mereka.
Deutsche Bank melakukan simulasi harga yang memperkirakan emas mencapai US$8.000 per ons dalam lima tahun, setara sekitar Rp 138,5 juta dengan kurs Rp 17.320 per dolar.
Harga emas pada 29 April 2026 berada di level US$4.570,05 atau sekitar Rp 79,14 juta per ons, mencatat koreksi ringan 0,52 persen.
Simulasi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa permintaan institusional akan terus meningkat sementara pasokan tetap terbatas.
Bank mengingatkan bahwa faktor geopolitik, terutama ketegangan antara AS dan Iran, dapat mempercepat pergeseran alokasi cadangan.
Investor ritel juga merespons dinamika ini dengan meningkatkan kepemilikan emas fisik dan produk berbasis emas.
Data Antam menunjukkan harga emas batangan tetap stabil di kisaran Rp560 ribu per gram pada hari itu.
Di pasar domestik, fluktuasi harga perhiasan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah serta kebijakan moneter Bank Indonesia.
Analisis pasar menyebutkan bahwa kenaikan harga emas global dapat menstimulasi permintaan dalam negeri, terutama di kalangan pembeli tradisional.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa peningkatan cadangan emas dapat menurunkan tekanan inflasi di negara‑negara yang mengadopsi strategi tersebut.
Namun, risiko geopolitik yang terus berubah tetap menjadi variabel utama yang dapat memengaruhi harga jangka pendek.
Pemerintah Indonesia belum secara resmi mengumumkan rencana penambahan cadangan emas, namun pihak berwenang terus memantau perkembangan pasar internasional.
Para pejabat menegaskan pentingnya diversifikasi cadangan untuk menjaga kedaulatan ekonomi nasional.
Secara keseluruhan, tren peningkatan cadangan emas mencerminkan pergeseran paradigma keuangan global yang lebih multipolar.
Para pelaku pasar diharapkan menyesuaikan strategi investasi mereka dengan memperhitungkan volatilitas harga emas serta kebijakan moneter negara‑negara besar.
Pergerakan harga emas dalam minggu mendatang akan menjadi indikator kuat apakah prediksi kenaikan 80 persen dapat terwujud.
Kondisi pasar saat ini menandai fase kritis dimana keputusan kebijakan cadangan dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Pengamat ekonomi menilai bahwa de‑dolarisasi akan terus mendorong alokasi cadangan ke aset riil seperti emas selama dekade mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan