Media Kampung – 15 April 2026 | Krisis sampah di Jakarta semakin mendesak, dengan produksi ribuan ton setiap harinya, memaksa pemerintah mempercepat program pemilahan sampah dari sumber.
Limbah organik menyumbang sekitar 60% dari total, sementara plastik dan kemasan non‑organik menempati sisanya, menambah beban TPA Pantai Burung yang kini hampir penuh.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Dedi Rachman, mengatakan, ‘Pemilahan dari sumber adalah satu‑satunya cara menahan laju timbulan sampah yang tidak terkendali.’
Program Pilah Sampah dari Sumber (PSDS) yang diluncurkan pada Januari 2026 menargetkan partisipasi 70% rumah tangga pada akhir tahun, melalui penyediaan tempat sampah terpilah di setiap kompleks perumahan.
Namun, survei independen yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Lingkungan menunjukkan tingkat pemilahan aktual hanya mencapai 32% pada bulan Maret, menyoroti kesenjangan implementasi.
Penyebab utama meliputi kurangnya edukasi publik, terbatasnya fasilitas pengumpulan terpilah, serta insentif ekonomi yang belum memadai bagi warga dan pedagang.
Untuk menutup kesenjangan, DKI mengalokasikan tambahan anggaran sebesar 150 miliar rupiah pada tahun anggaran 2026/2027, yang akan digunakan untuk memperluas jaringan bank sampah dan pelatihan bagi petugas kebersihan.
Selain itu, pemerintah kota berkolaborasi dengan perusahaan teknologi untuk mengembangkan aplikasi mobile yang memantau tingkat pemilahan dan memberikan reward digital bagi pengguna yang konsisten.
Pada 10 April 2026, pilot project di kawasan Cengkareng berhasil mengumpulkan 1.200 ton sampah terpilah dalam tiga bulan, menurunkan volume sampah tak terpilah yang masuk ke TPA sebesar 15%.
Krisis sampah Jakarta bukan fenomena baru; sejak 2010, pertumbuhan penduduk dan urbanisasi cepat telah meningkatkan tekanan pada infrastruktur pengelolaan limbah kota.
Dengan lahan TPA yang terbatas—hanya tiga lokasi utama, yaitu TPA Pantai Burung, TPA Bantar Gebang, dan TPA Bantar Jati—penundaan pemilahan dapat mempercepat penutupan fasilitas tersebut.
Meskipun tantangan masih besar, langkah intensif pemilahan sumber yang kini dipercepat diharapkan dapat menstabilkan produksi sampah dan memberi ruang bagi solusi jangka panjang seperti daur ulang dan energi terbarukan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.














Tinggalkan Balasan