Media Kampung – Semifinal Liga Champions 2025/2026 antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Bayern Munchen berakhir dengan keputusan penalti VAR yang menimpa Die Roten, menimbulkan kontroversi besar menjelang leg pertama.

Insiden terjadi pada menit ke‑33 babak pertama ketika Ousmane Dembélé mengirimkan umpan silang lurus ke dalam kotak penalti PSG, kemudian bola menyentuh lengan kiri Alphonso Davies secara tidak sengaja.

Awalnya wasit utama Sandro Scharer tidak menandai pelanggaran dan melanjutkan pertandingan, namun petugas VAR Carlos del Cerro Grande menghentikan alur permainan untuk meninjau kembali insiden tersebut.

Setelah menonton ulang melalui monitor VAR, Scharer memutuskan mengubah keputusan menjadi penalti bagi PSG, menyatakan bahwa gerakan lengan Davies memperbesar bidang tubuh secara tidak wajar.

Aturan handball saat ini menekankan pada posisi tangan yang tidak natural serta gerakan yang memperbesar area tubuh, meskipun bola telah memantul terlebih dahulu pada bagian tubuh lain.

Andy Davies, mantan wasit Premier League, menilai keputusan tersebut “sangat memberatkan bagi Bayern Munchen mengingat jarak tembak bola yang sangat dekat dan pantulan yang mengubah arah bola secara tiba‑tiba”.

Dia menambahkan, “Saya memiliki simpati yang besar untuk mereka dalam insiden kontroversial kali ini, dan UEFA kemungkinan tidak akan terlalu senang dengan pemberian penalti ini”.

Banyak analis sepak bola menilai penalti tersebut terlalu keras karena pemain bertahan hampir tidak memiliki waktu untuk bereaksi sebelum bola masuk ke area penalti.

Penilaian tersebut didukung oleh fakta bahwa bola menyentuh tubuh Davies terlebih dahulu, kemudian memantul ke lengan, sehingga perubahan arah bola menjadi faktor penting dalam evaluasi.

Namun, VAR tetap berpegang pada interpretasi bahwa posisi lengan tidak natural, sehingga pelanggaran tetap dianggap sah menurut regulasi UEFA.

Perbandingan dengan Premier League menunjukkan bahwa situasi serupa biasanya tidak menghasilkan penalti, mengingat liga Inggris cenderung lebih toleran terhadap pantulan jarak dekat.

Andy Davies menegaskan, “Situasi ini tidak akan berbuah penalti jika terjadi di Premier League, namun di kompetisi UEFA pendekatan lebih ketat terhadap handball”.

Pertandingan berakhir dengan skor 5‑4 untuk kemenangan PSG, mencatat total sembilan gol yang menjadikannya salah satu semifinal paling produktif dalam sejarah Liga Champions.

Manuel Neuer, kiper Bayern, mencatatkan rekor tidak biasa: lima gol kebobolan tanpa satu penyelamatan pun, menjadi catatan langka bagi seorang penjaga gawang di fase gugur.

Di luar aksi lapangan, sebuah insiden melibatkan ball boy PSG menunda memberi bola kepada Neuer, menambah dinamika unik pada pertandingan yang sudah penuh ketegangan.

Komentar tambahan dari pakar taktik menyoroti bahwa keputusan penalti mengubah strategi PSG, yang semakin memaksimalkan peluang serangan di zona akhir babak pertama.

Bayern Munchen kini harus mengatasi defisit satu gol di leg kedua yang akan digelar di Allianz Arena, dengan harapan memanfaatkan keunggulan kandang untuk membalikkan keadaan.

Latihan intensif dan penyesuaian taktik diharapkan dapat meminimalisir risiko penalti serupa serta memperkuat lini belakang yang rentan.

Sejauh ini, reaksi suporter Bayern di Paris menunjukkan kekecewaan mendalam, namun juga menegaskan tekad untuk kembali bersaing pada leg berikutnya.

Leg kedua dijadwalkan pada Rabu, 6 Mei 2026, pukul 20.45 WIB, dengan ekspektasi pertandingan kembali menampilkan intensitas tinggi dan peluang dramatis.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.