Media Kampung – Pascagempa bumi berkekuatan M6,7 yang mengguncang Palu pada 16 Juni 2026 lalu, relawan memastikan kondisi Kampung Peradaban LMI di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, dalam keadaan aman. Kompleks pemukiman yang dibangun khusus bagi guru-guru yang rumahnya hancur akibat likuifaksi delapan tahun silam itu tetap kokoh dan berfungsi normal.

Susanto, perwakilan Humanitarian Program Laznas LMI, menjelaskan bahwa Kampung Peradaban Palu merupakan hasil sinergi antara Laznas LMI, Yayasan Islam Al-Fahmi, dan JSIT Sulawesi Tengah. Dihuni sejak April 2019, kawasan ini dirancang sebagai pemukiman berbasis pendidikan karakter. “Hingga sekarang, kondisi rumah terawat, kegiatan pengajian rutin berjalan, dan semangat gotong royong warga masih sangat kuat,” ujar Susanto di Kediri, Rabu, 24 Juni 2026.

Menurut data BMKG, gempa yang terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026 pukul 10.27 WIB merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif dengan episenter di darat 42 km tenggara Palu pada kedalaman 10 km. Meski getaran terasa cukup kuat, tidak ada kerusakan berarti di Kampung Peradaban. Warga tetap menjalani aktivitas seperti biasa.

Ustadz Mahmud Yunus, penanggung jawab Kampung Peradaban, menambahkan bahwa fokus utama warga adalah Pendidikan Al-Quran dan Bahasa. “Warga dan anak-anak dibina menjadi hafizhafizah, sekaligus diajarkan Bahasa Inggris sebagai bekal dakwah dan pendidikan,” katanya. Untuk menjaga silaturahmi dan kesederhanaan, setiap rumah hanya memiliki satu televisi. Langkah ini mendorong interaksi lebih hidup, seperti mengaji bersama, mengobrol, dan saling menguatkan antar tetangga.

Susanto berharap Kampung Peradaban Palu terus menjadi oase ilmu dan teladan pemulihan pascabencana. Dengan kondisi yang aman dan kegiatan yang berjalan lancar, kampung ini membuktikan bahwa pemulihan sosial dan pendidikan bisa berjalan beriringan meski di tengah ancaman gempa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.