Media Kampung – Reforma Agraria Desa Soso meningkatkan kesejahteraan petani perempuan melalui kepemilikan lahan yang lebih jelas dan terjamin.

Program reforma agraria yang diluncurkan pada awal 2025 oleh Badan Pertanahan Nasional menyasar 1.200 hektar lahan pertanian di wilayah Soso, Banyuwangi, dengan tujuan utama memberikan hak kepemilikan yang sah kepada petani perempuan.

Hingga akhir 2025, lebih dari 350 kepala keluarga perempuan telah menerima sertifikat tanah, meningkatkan persentase kepemilikan lahan perempuan di desa tersebut menjadi 48 persen.

Patma, 55 tahun, petani perempuan asal Desa Soso, menyatakan, "Dengan sertifikat tanah saya, saya tidak lagi khawatir kehilangan lahan, dan kini dapat menabung untuk pendidikan anak‑anak saya."

Kepemilikan lahan yang jelas memungkinkan petani perempuan mengakses kredit pertanian dengan bunga lebih rendah, sehingga produksi padi dan sayuran meningkat rata‑rata 22 persen per musim tanam.

Peningkatan pendapatan ini langsung berdampak pada kemampuan keluarga untuk membiayai pendidikan formal, dimana 68 persen anak petani perempuan kini melanjutkan ke jenjang menengah atas.

Selain itu, partisipasi perempuan dalam rapat desa meningkat, mereka kini terlibat dalam perencanaan irigasi dan distribusi pupuk organik.

Pemerintah desa menyediakan pelatihan manajemen keuangan dan teknik pertanian berkelanjutan selama tiga bulan, yang diikuti oleh lebih dari 200 petani perempuan.

Beberapa tantangan masih ada, seperti akses jalan yang belum memadai untuk mengangkut hasil panen ke pasar regional.

Untuk mengatasi hal tersebut, dinas pertanian setempat bekerja sama dengan BUMN jalan provinsi mengalokasikan dana Rp5 miliar untuk perbaikan infrastruktur desa.

Petani perempuan juga menerima pendampingan dalam diversifikasi produk, termasuk budidaya jamur tiram dan tanaman obat tradisional yang memiliki nilai jual tinggi.

Diversifikasi ini tidak hanya menambah sumber pendapatan, tetapi juga memperkaya ketahanan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada padi monokultur.

Program reformasi menekankan pada praktik pertanian ramah lingkungan; penggunaan pestisida sintetik turun 35 persen setelah adopsi teknik integrated pest management.

Kondisi lingkungan yang lebih baik meningkatkan kualitas tanah, yang tercermin dari peningkatan indeks kesuburan sebesar 12 poin dalam survei tahun 2025.

Komunitas petani perempuan membentuk koperasi simpan pinjam yang kini mengelola dana sebesar Rp2,3 miliar, memperkuat posisi tawar mereka di pasar.

Rencana ke depan meliputi penambahan lahan seluas 300 hektar untuk program reforma lanjutan, dengan target menambah 200 kepemilikan hak atas tanah perempuan pada tahun 2027.

Pembaruan terbaru pada bulan Maret 2026 menunjukkan bahwa 15 keluarga perempuan telah berhasil menandatangani perjanjian jual‑beli lahan dengan harga pasar, menandakan kepercayaan investor terhadap stabilitas agraria desa.

Dengan landasan hukum yang kuat, dukungan pelatihan, dan akses pasar yang lebih luas, petani perempuan Desa Soso berada pada posisi yang lebih baik untuk mengangkat kesejahteraan keluarga mereka secara berkelanjutan.

Kondisi saat ini menunjukkan peningkatan signifikan pada pendapatan rata‑rata keluarga perempuan, yang kini mencapai Rp45 juta per tahun, menandakan keberhasilan reforma agraria dalam menciptakan peluang ekonomi yang inklusif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.