Media Kampung – Pemerintah Paris melarang konsumsi minuman beralkohol di ruang publik mulai Jumat, 27 Juni 2026 siang, sebagai langkah melindungi warga dari dampak gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis dan sejumlah negara Eropa. Kepala Kepolisian Paris Patrice Faure menyatakan larangan ini diberlakukan karena konsumsi alkohol saat cuaca sangat panas dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
“Saya akan menerbitkan dekret yang melarang konsumsi alkohol di tempat umum mulai tengah hari besok. Minum alkohol saat matahari sedang terik dapat berdampak buruk bagi kesehatan,” kata Faure dikutip dari Reuters. Selain larangan konsumsi, otoritas Paris juga akan membatasi penjualan minuman beralkohol pada Jumat malam.
Kebijakan ini diterapkan ketika rumah sakit di ibu kota Prancis mulai menerima lebih banyak pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem. Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengonfirmasi peningkatan jumlah pasien yang datang ke unit gawat darurat.
Paris kembali mengalami cuaca sangat panas setelah sehari sebelumnya mencatat suhu tertinggi untuk bulan Juni, yakni 40,9 derajat Celsius. Pada Kamis, suhu di ibu kota Prancis masih mendekati 40 derajat Celsius. Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gelombang panas ini, terutama kelompok usia produktif yang cenderung tetap beraktivitas normal meski suhu sangat tinggi.
“Orang berusia 50 hingga 70 tahun yang merasa sehat sering menganggap ini hanya cuaca panas biasa dan tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal mereka juga harus melindungi diri,” ujarnya.
Gelombang panas juga melanda sejumlah negara Eropa Barat. Di Inggris, suhu mencapai 36,7 derajat Celsius pada Kamis, menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni sejak pencatatan dilakukan. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) memperpanjang peringatan cuaca panas ekstrem hingga Jumat, pertama kalinya peringatan tingkat tertinggi diberlakukan selama tiga hari berturut-turut.
Swiss juga mencatat rekor suhu bulan Juni setelah temperatur di Basel menyentuh 38 derajat Celsius. Sementara Jerman, Italia, Austria, Republik Ceko, dan Belanda diperkirakan masih akan mengalami cuaca sangat panas dalam beberapa hari ke depan.
Gelombang panas telah memicu berbagai insiden di sejumlah negara. Di Prancis, sedikitnya 48 orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam saat berusaha mendinginkan diri di sungai, danau, maupun pantai sejak gelombang panas dimulai. Selain itu, tiga anak dilaporkan meninggal dunia setelah terjebak di dalam mobil yang terpapar suhu ekstrem. Di Jerman, lebih dari 20 orang meninggal dalam kecelakaan saat berenang sejak akhir pekan lalu, menurut Asosiasi Penyelamat Jiwa Jerman. Sementara di Italia, media setempat melaporkan sedikitnya lima orang meninggal akibat insiden yang berkaitan dengan cuaca panas.
Dampak gelombang panas juga dirasakan sektor pendidikan dan ekonomi. Kementerian Pendidikan Prancis menyebut, sekitar 13.500 sekolah ditutup atau mengubah jadwal belajar karena suhu yang terlalu tinggi. Di Inggris, lebih dari 1.000 sekolah juga ditutup sebagian maupun seluruhnya setelah suhu di sejumlah ruang kelas dilaporkan melebihi 40 derajat Celsius.
Sektor pertanian ikut terkena imbas. Pemerintah Prancis memperkirakan produksi gandum, buah, sayur, unggas, hingga peternakan akan menurun akibat suhu ekstrem. Kondisi itu berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Di Italia, pemerintah membuka akses bantuan bagi perusahaan yang menghentikan sementara aktivitas kerja luar ruangan demi melindungi pekerja dari risiko sengatan panas.
Menurut Reuters Climate Monitor, gelombang panas kali ini dipicu pola cuaca yang dikenal sebagai Omega Block, yaitu kondisi atmosfer yang menjebak udara panas di suatu wilayah selama beberapa hari. Fenomena tersebut menyebabkan suhu di sejumlah wilayah Eropa berada hingga 18 derajat Celsius di atas rata-rata normal.
Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), Simon Stiell, mengatakan gelombang panas ekstrem merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim. “Krisis iklim kini terlihat jelas. Sekolah ditutup, masyarakat rentan meninggal, dan aktivitas ekonomi terganggu. Ini baru permulaan,” ujarnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan