Media Kampung – Tradisi Jamasan Pusaka kembali digelar di Serambi Museum Blambangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi pada Selasa, 16 Juni 2026. Ritual pembersihan benda-benda kuno ini menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara karena sarat dengan nilai spiritual dan kebudayaan leluhur.
Pembersihan pusaka ini merupakan wujud nyata pelestarian warisan adiluhur yang dilaksanakan secara turun-temurun bertepatan dengan 1 Suro dalam kalender Jawa atau 1 Muharram dalam kalender Islam. Bagi masyarakat Jawa, khususnya di Banyuwangi, keris bukan sekadar senjata tajam, melainkan karya seni bernilai tinggi yang menyimpan nilai sentimental dan sejarah mendalam.
Paguyuban Panji Blambangan secara konsisten merawat tradisi ini sejak 1 Suro tahun 2006, tepat setelah keris Indonesia diakui UNESCO pada 25 November 2005 sebagai warisan kemanusiaan. Upacara jamasan tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui tahapan ritual ketat: pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan, tirakatan atau bersemedi, hingga pencucian yang berlangsung sepanjang bulan Suro.
Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro, menjelaskan bahwa prosesi jamasan yang berlangsung 16-19 Juni ini memiliki makna filosofis mendalam. “Selain membersihkan secara fisik, prosesi ini bertujuan membersihkan diri. Manusia harus introspeksi setidaknya setahun sekali,” ungkapnya. Jenis pusaka yang dijamas beragam, mulai dari keris sepuh, pedang luwuk, hingga tombak biring. Salah satu yang ikonik adalah tombak biring milik Raden Tumenggung Astro Kusumo, Bupati ke-18 Banyuwangi tahun 1888.
Melalui kegiatan ini, energi negatif yang menempel pada pusaka diyakini dapat dilepaskan dan digantikan energi positif. Ilham meluruskan mitos bahwa keris bisa bergoyang atau berpindah tempat; hal itu terjadi akibat penumpukan energi negatif karena pusaka diabaikan. Ia juga menegaskan bahwa kemampuan keris berdiri tegak adalah bukti keterampilan empu, bukan magis hitam.
Rangkaian acara juga dimeriahkan pameran pusaka, sarasehan, dan konsultasi gratis perawatan tosan aji. Seorang wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard, mengaku takjub melihat keris kuno berusia ratusan tahun yang masih terawat baik. “Benda-benda kuno ini masih terjaga karena dirawat dengan benar oleh generasi penerus,” katanya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan