Media Kampung – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa museum harus berperan lebih dari sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah. Dalam peringatan Hari Museum Internasional 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Fadli menyatakan bahwa museum perlu menjadi ruang pengetahuan, penguat identitas bangsa, dan penggerak ekonomi budaya di tengah dunia yang semakin terpecah oleh konflik dan perubahan teknologi.

Dalam orasi budaya bertema “Museums Uniting a Divided World” tersebut, Fadli menjelaskan bahwa museum berperan sebagai ruang ingatan kolektif, ruang kewargaan, dan ruang peradaban yang mampu menjadi media belajar menghargai perbedaan. Ia menekankan pentingnya museum sebagai bagian dari upaya bangsa dalam merawat sejarah dan memperkuat jati diri nasional.

Menteri Kebudayaan memaparkan empat landasan kebijakan permuseuman nasional, yaitu museum sebagai instrumen pembentukan jati diri bangsa, memperkuat kohesi sosial, memulihkan kedaulatan budaya lewat repatriasi warisan budaya, dan menjadi infrastruktur utama ekonomi budaya. Ia mengapresiasi keberhasilan pengembalian lebih dari 28 ribu fosil dan koleksi Dubois dari Belanda pada tahun 2025 yang menjadi langkah penting dalam pemulihan memori dan kedaulatan budaya Indonesia.

Fadli menegaskan bahwa tugas museum tidak hanya mengoleksi, tetapi juga menghidupkan makna warisan budaya melalui riset, konservasi, dan interpretasi bagi publik. Lebih jauh, ia melihat potensi museum sebagai sumber modal budaya yang bisa dikembangkan menjadi nilai ekonomi di berbagai sektor seperti film, animasi, gim, kuliner, wastra, hingga konten digital.

Untuk memberikan gambaran, Fadli menyebutkan bahwa museum di Amerika Serikat mampu menyerap lebih dari 726 ribu tenaga kerja dan menyumbang sekitar 50 miliar dolar AS per tahun bagi perekonomian nasional. Di Belanda, program Museumkaart berhasil mendorong hampir 10 juta kunjungan setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, terdapat 516 museum yang tersebar di berbagai daerah, dengan 373 museum telah teregistrasi dan 234 di antaranya sudah memenuhi standar nasional.

Fadli juga menyoroti tren positif minat generasi muda terhadap museum. Survei Museum dan Cagar Budaya tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen pengunjung museum berusia di bawah 35 tahun, dengan kelompok usia 18–24 tahun sebagai yang terbesar. Menurutnya, tantangan ke depan adalah mengembangkan peran generasi muda dari sekadar pengunjung menjadi peserta aktif dalam ekosistem permuseuman.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan memberikan apresiasi terhadap peluncuran Museum Passport yang digagas oleh BLU Museum dan Cagar Budaya bekerja sama dengan Asosiasi Museum Indonesia dan ICOM Indonesia. Program ini diharapkan dapat menjadikan kunjungan museum sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat yang intelektual dan cakap digital.

Fadli Zon menegaskan bahwa museum harus terus hidup secara intelektual, terbuka untuk masyarakat, dan berkontribusi pada pengembangan ekonomi budaya sebagai ruang peradaban Indonesia. Hal ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem permuseuman nasional yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan masa kini.

Dengan berbagai upaya penguatan standar, digitalisasi, konservasi, dan peningkatan akses publik, museum di Indonesia diharapkan mampu memainkan peran strategis dalam menjaga sejarah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif. Peran aktif masyarakat, terutama generasi muda, menjadi kunci keberhasilan transformasi museum ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.