Media Kampung – Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sedang mempercepat proses repatriasi keris-keris yang berada di Belanda. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk memulangkan kembali benda-benda budaya yang dianggap milik Indonesia.
Fadli menjelaskan bahwa saat ini pemerintah masih dalam tahap pendataan untuk mengetahui jumlah pasti keris yang ada di Belanda. Ia mengakui tidak mengingat semua jumlahnya, namun keris-keris tersebut telah dikelompokkan menjadi beberapa kategori, seperti keris Puputan Bali, Puputan Lombok, keris Hamengkubuwono, keris Perang Padri, keris Naga Siluman, dan keris Teuku Umar.
“Pengelompokannya sudah ada, meskipun saya tidak hafal jumlah pastinya,” ungkapnya kepada wartawan setelah acara Peringatan Hari Keris Nasional yang digelar di Museum Pusaka TMII, Jakarta Timur.
Proses repatriasi dilakukan melalui kerjasama dengan pemerintah Belanda, di mana pendekatan riset asal-usul (provenance research) diterapkan untuk membuktikan bahwa keris-keris tersebut merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia. Fadli menekankan pentingnya membuktikan kepemilikan tersebut agar proses pemulangan berjalan lancar.
“Kita harus membuktikan bahwa keris itu milik kita. Riset asal-usul dari keris adalah langkah yang sangat penting dalam proses ini,” jelas Fadli.
Namun, ia juga menegaskan bahwa tidak semua keris yang ada di luar negeri akan dipulangkan ke Indonesia. Beberapa koleksi keris di luar negeri diperoleh secara sah dan menjadi bagian dari koleksi museum atau institusi di negara lain.
Pemerintah saat ini lebih fokus pada benda-benda budaya yang diduga merupakan hasil rampasan perang atau bagian dari praktik kolonialisme yang terjadi di masa lalu. Fadli menegaskan, “Yang merupakan rampasan perang ketika itu, bagian dari rampasan kolonialisme, akan kita kembalikan.”
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa contoh signifikan terkait repatriasi keris, termasuk penyerahan keris milik Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro oleh Raja Belanda Willem Alexander kepada Presiden Joko Widodo. Keris tersebut diserahkan pada 10 Maret 2020 dan sebelumnya disimpan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda.
Keberadaan keris ini sempat menjadi teka-teki setelah Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKZ) bubar. Sebelum dikembalikan ke Indonesia, proses penelitian yang cermat dilakukan oleh para peneliti dari kedua negara untuk membuktikan kepemilikan sah keris tersebut.
Fadli menekankan bahwa meskipun sejarah tidak dapat dihapus, penting bagi Indonesia untuk belajar dari masa lalu dan menjalin hubungan yang lebih setara dengan negara-negara lain.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan