Media Kampung – Saham PT RGAS terus mencatatkan kenaikan signifikan di tengah pelemahan pasar modal Indonesia. Hingga pertengahan 2026, harga saham perusahaan distributor perlengkapan infrastruktur gas ini telah melonjak 107% dari level rekomendasi awal di kisaran Rp90–Rp110 per saham menjadi Rp200-an per saham. Bahkan, Bursa Efek Indonesia sempat melakukan suspensi karena pergerakan harga yang tidak wajar.

Kenaikan ini tidak lepas dari kinerja keuangan yang impresif sepanjang 2025. Pendapatan RGAS melonjak 270% menjadi Rp272 miliar, ditopang dua proyek besar: pembelian converter kit dari Pertamina Patra Niaga senilai Rp98 miliar dan proyek jargas bersama PGAS senilai Rp65 miliar. Kedua kontrak tersebut mendorong laba bersih perusahaan tumbuh signifikan.

Bisnis RGAS: Distribusi Spare Part dan Jasa Konstruksi Gas

RGAS bergerak di bidang penjualan peralatan pendukung infrastruktur gas, mulai dari spare part, regulator, meter gas, hingga jasa Engineering, Procurement, and Construction (EPC). Sumber pendapatan utama berasal dari penjualan produk dan jasa konstruksi terkait gas. Sayangnya, sebagian besar pendapatan bersifat one-off atau tidak berulang, sehingga risiko konsolidasi kinerja cukup tinggi jika tidak ada kontrak baru.

Prospek ke Depan: Bergantung pada Proyek Jargas Pemerintah

Manajemen RGAS optimistis pertumbuhan masih bisa berlanjut. Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas (jargas) sebanyak 959.323 sambungan rumah pada 2026–2027, jauh lebih besar dari realisasi 119.354 sambungan pada periode sebelumnya. RGAS berpotensi mendapatkan kontrak penyediaan regulator, meter gas, converter kit, dan jasa instalasi.

Selain itu, RGAS menjalin kerja sama dengan Rucika, produsen pipa, dan menambah lini bisnis baru di bidang perdagangan besar bahan konstruksi dan perlengkapan perpipaan. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi perusahaan di tengah persaingan dengan produk impor dan BUMN.

Tantangan dan Risiko

Meski prospek cerah, ada beberapa risiko yang perlu dicermati. Pertama, ketergantungan pada proyek besar membuat kinerja rentan terkonsolidasi jika tidak ada kontrak baru. Kedua, persaingan dengan produk impor dan BUMN sendiri. Ketiga, fluktuasi kurs rupiah yang mempengaruhi margin keuntungan karena sebagian produk masih bergantung pada pemasok luar negeri.

Pada kuartal I-2026, pendapatan RGAS turun 75% menjadi Rp30 miliar, dan laba bersih turun 16% menjadi Rp1,6 miliar. Meski margin laba bersih membaik dari 1% menjadi 5%, penurunan pendapatan non-barang dagangan menandakan adanya konsolidasi. Jika tidak ada kontrak jumbo baru, risiko perlambatan kinerja semakin nyata.

Kesimpulan untuk Investor

Kenaikan saham RGAS yang spektakuler telah mendorong suspensi saham. Bagi investor yang ingin memburu saham ini, perlu mewaspadai risiko volatilitas dan ketergantungan pada proyek pemerintah. Alternatifnya, investor dapat melirik saham lain yang masih terdiskon. Informasi lebih lengkap mengenai pilihan saham value, growth, dividen, dan contrarian dapat diperoleh melalui layanan Mikirsaham.com.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.