Media Kampung – Koh Polim, seorang mantan fotografer yang pernah berkecimpung dalam dunia foto model, tokoh politik, hingga dunia supranatural, kini sukses menjalankan bisnis daun singkong yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Peralihan kariernya dari dunia fotografi yang gemerlap ke dunia pertanian ini membuktikan bahwa menjalankan usaha agribisnis bisa sangat menjanjikan.
Pria kelahiran Kalimantan Barat ini mengawali kariernya sebagai fotografer di berbagai agency fotografi, meliput sejumlah tokoh hingga dunia mistik yang memberikan pengalaman unik baginya. Namun, Koh Polim akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia agribisnis dengan fokus pada budidaya daun singkong. Keputusan ini terbilang tidak biasa karena kebanyakan petani lebih memilih menanam umbi singkong, sementara ia mengembangkan daun singkong sebagai produk utama.
Koh Polim mengelola lahan pertanian seluas 5 hingga 8 hektar di kawasan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Aktivitas panen dilakukan secara rutin setiap 40 hari atau satu hingga dua bulan sekali. Dalam sehari, ia mampu memanen daun singkong sebanyak lima hingga enam mobil pickup, dengan setiap pickup menampung sekitar 500 ikat daun singkong.
Permintaan daun singkong sangat tinggi, terutama dari warung dan restoran Padang yang menjadikan daun ini sebagai bahan utama dalam masakan mereka. Selain itu, daun singkong juga telah menjadi bagian penting dalam konsumsi masyarakat luas dari berbagai kalangan. Koh Polim bahkan menyebut daun singkong bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan, termasuk dendeng daun singkong yang dibuat oleh istrinya.
Meski usaha berjalan lancar, Koh Polim menghadapi tantangan terutama dalam memperoleh pupuk subsidi yang harganya lebih terjangkau. Ia mengeluhkan sulitnya akses pupuk subsidi untuk tanaman daun singkong, yang menurutnya tidak dianggap sama dengan sayur-sayuran lain oleh dinas pertanian. Untuk mengatasi hal ini, ia meminjam kartu belanja pupuk subsidi dari petani lain dengan biaya tambahan antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per pembelian.
Distribusi daun singkong yang dikelolanya menjangkau pasar-pasar sekitar Bogor serta restoran dan warung di Jakarta, termasuk wilayah Tanjung Priok dan Cikarang. Koh Polim juga bekerja sama dengan petani lain di sekitar kawasan Bogor untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.
Pada masa tanam dan panen, daun singkong membutuhkan waktu sekitar 40 hari hingga dua bulan tergantung kondisi cuaca dan perawatan. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk urea dan pupuk kandang secara berkala setelah panen. Sistem tanam yang diterapkan adalah rotasi dan pembaruan dengan memanfaatkan bibit yang sama selama bertahun-tahun, berbeda dengan singkong umbi yang harus dicabut dan diganti bibit baru setiap panen.
Koh Polim mengungkapkan optimisme terhadap prospek bisnis daun singkong meskipun masih ada kendala dalam sistem distribusi pupuk dan dukungan pemerintah. Ia menaruh harapan besar pada rencana pemerintah membentuk Koperasi Merah Putih yang dapat memberikan akses pembelian pupuk subsidi tanpa kartu, sehingga membantu petani yang selama ini kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau.
Dengan margin keuntungan sekitar 30%, bisnis daun singkong Koh Polim terus berkembang dan memenuhi kebutuhan pasar di wilayah Jabodetabek. Aktivitas pengiriman dilakukan setiap hari dengan menggunakan beberapa mobil pickup dan layanan taksi online saat permintaan meningkat. Koh Polim menegaskan bahwa usaha ini dijalankan dengan serius setelah mempelajari dan memahami proses pengelolaan daun singkong secara mendalam.
Perjalanan Koh Polim dari dunia fotografi yang penuh warna ke dunia agribisnis daun singkong memberikan gambaran bahwa bertani bisa menjadi pilihan usaha yang menguntungkan dan berkelanjutan. Ia berhasil membuktikan bahwa pengelolaan produk pertanian yang fokus dan profesional dapat membuka peluang bisnis besar di sektor yang sering kali dianggap sederhana ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan