Media Kampung – Bank digital Indonesia menghadapi ujian kepercayaan publik pada kuartal pertama 2026, dengan laba yang terus naik namun kebijakan penyaluran kredit menjadi lebih selektif.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat laba bersih Rp15,5 triliun, naik 13,7% YoY, didorong oleh pertumbuhan kredit UMKM sebesar 13,7% menjadi Rp1.562 triliun serta peningkatan dana murah (CASA) 13,2% menjadi Rp1.058,6 triliun. Direktur Utama Hery Gunardi menegaskan bahwa fondasi bisnis tetap kuat meski tekanan geopolitik melanda.

OCBC NISP juga melaporkan laba bersih Rp1,36 triliun, naik 5% YoY. Kredit yang disalurkan mencapai Rp171 triliun, sementara rasio CASA mencapai 61,9% dari total DPK. Parwati Surjaudaja menyatakan transformasi digital menjadi motor pertumbuhan utama, dengan transaksi e‑channel naik 15% YoY.

PaninBank melaporkan laba sebelum pencadangan dan pajak Rp1,29 triliun, meningkat 5,4% YoY. Namun bank meningkatkan pencadangan sebesar 33% untuk mengantisipasi risiko kualitas kredit. Herwidayatmo menekankan pentingnya selektivitas penyaluran, dengan total kredit sebesar Rp140,34 triliun.

Secara agregat, total aset ketiga bank utama melebihi Rp2.800 triliun, menunjukkan kapasitas penyerapan dana yang signifikan. Namun, rasio loan‑to‑deposit (LDR) tetap dijaga di bawah 90% untuk menghindari over‑leverage di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pengetatan kredit terlihat pada segmen korporasi besar, di mana persyaratan agunan dan evaluasi risiko menjadi lebih ketat. Hal ini sejalan dengan kebijakan OJK yang mendorong perbankan untuk menjaga kualitas aset dan menurunkan Non‑Performing Loan (NPL) di atas 2%.

Di sisi lain, kepercayaan nasabah terhadap layanan digital terus menguat. CASA BRI naik 13,2% YoY, OCBC mencatat pertumbuhan pengguna aktif mobile banking hingga 8% untuk perorangan dan 20% untuk korporasi, sementara PaninBank meluncurkan aplikasi MyPanin pada Februari 2026.

Para analis menilai bahwa pertumbuhan laba didukung oleh efisiensi biaya dana serta diversifikasi produk digital. Namun, mereka memperingatkan bahwa pengetatan kredit dapat menurunkan volume penyaluran di sektor riil jika kondisi makroekonomi memburuk.

Ke depan, bank‑bank digital diproyeksikan akan memperkuat fondasi likuiditas, meningkatkan rasio kecukupan modal, dan terus mengembangkan ekosistem fintech untuk mempertahankan kepercayaan publik di tengah volatilitas pasar global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.