Media KampungAnwar Abbas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengajak seluruh anggota organisasi untuk menghidupkan kembali semangat entrepreneur demi memperkuat kontribusi ekonomi umat. Seruan tersebut disampaikan dalam pertemuan nasional yang berlangsung di Jakarta pada 23 April 2026, dihadiri ratusan tokoh dan aktivis Muhammadiyah.

Ia menyoroti fakta bahwa dalam daftar 10 orang terkaya di Indonesia, representasi Muslim sangat minim atau bahkan hampir tidak ada. Menurut data terbaru, hanya satu tokoh beragama Islam yang masuk dalam peringkat tersebut, sementara mayoritas pendiri perusahaan besar beragama non‑Muslim, menimbulkan keprihatinan atas kesenjangan ekonomi.

Anwar Abbas mengingat kembali jejak pendiri Muhammadiyah yang sekaligus menjadi pelopor wirausaha pada awal abad ke‑20, seperti K.H. Ahmad Dahlan yang mendirikan koperasi dan industri kecil berbasis nilai sosial. Semangat tersebut dianggap sebagai warisan nilai yang dapat menggerakkan komunitas Muslim dalam era globalisasi dan persaingan pasar modern.

Dalam sambutannya, ia menegaskan, “Kita harus kembali menumbuhkan jiwa wirausaha yang berlandaskan nilai moral dan kepedulian sosial,” kata Anwar Abbas. Ia menambahkan bahwa inovasi harus sejalan dengan prinsip keadilan, keberlanjutan, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat luas.

Untuk mewujudkan tujuan itu, Muhammadiyah akan meluncurkan program pelatihan bisnis berbasis digital yang menargetkan pemuda di seluruh jaringan pesantren dan madrasah. Program tersebut mencakup pendampingan startup, akses pembiayaan mikro, serta jaringan mentor profesional yang berpengalaman di sektor teknologi dan manufaktur.

Pemerintah Indonesia juga diharapkan memberikan dukungan kebijakan yang mempermudah akses pasar bagi usaha kecil yang dikelola oleh anggota Muhammadiyah. Dengan sinergi tersebut, diharapkan jumlah UMKM berbasis syariah meningkat signifikan dalam lima tahun ke depan, menciptakan lapangan kerja baru bagi jutaan warga.

Secara nasional, indeks kemudahan berbisnis menunjukkan perbaikan, namun tantangan seperti birokrasi yang masih rumit dan kurangnya literasi keuangan masih menghambat pertumbuhan. Inisiatif komunitas keagamaan seperti Muhammadiyah dapat menjadi katalisator tambahan untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja dan inovasi produk lokal.

Beberapa tokoh bisnis Muslim menyambut baik seruan Anwar Abbas, menyatakan bahwa dukungan institusional akan memperkuat ekosistem startup yang beretika. Mereka juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara lembaga keagamaan, akademisi, dan industri untuk menciptakan solusi yang relevan dan berkelanjutan.

Hingga kini, persiapan program pelatihan telah memasuki fase final, dengan target peluncuran pada kuartal ketiga 2026 di beberapa kota besar Indonesia. Anwar Abbas menutup pertemuan dengan harapan bahwa semangat entrepreneur akan kembali menjadi kekuatan utama Muhammadiyah dalam kontribusi sosial dan ekonomi nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.