Media Kampung – Konferensi PBB yang membahas peninjauan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) berakhir tanpa tercapai kesepakatan setelah berlangsung selama empat pekan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran menjadi faktor utama yang menggagalkan proses penyepakatan di antara 191 negara anggota.

Duta Besar Vietnam untuk PBB, Do Hung Viet, selaku ketua konferensi, menyampaikan bahwa meskipun tidak ada negara yang secara eksplisit memblokir konsensus, adanya ketentuan dalam rancangan dokumen akhir yang menuntut Iran tidak mengembangkan atau memiliki senjata nuklir menjadi hambatan utama perundingan. Dokumen tersebut bahkan telah dipermudah, tetapi tetap gagal disetujui bersama.

Kegagalan ini merupakan yang ketiga kalinya secara berturut-turut dalam konferensi peninjauan NPT. Sebelumnya pada 2022, Rusia juga memblokir dokumen akhir yang membahas perang Ukraina dan isu pendudukan pembangkit listrik nuklir Zaporizhzhia. NPT sendiri selama ini dianggap sebagai kerangka utama dalam usaha global untuk menahan penyebaran senjata nuklir dan mendorong perlucutan senjata.

Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, menyatakan rasa penyesalannya atas berakhirnya konferensi tanpa hasil. Ia menekankan bahwa situasi saat ini sangat berisiko dengan meningkatnya ancaman senjata nuklir, sehingga semua negara harus mengedepankan dialog, diplomasi, dan negosiasi untuk meredakan ketegangan dan mengurangi risiko konflik nuklir global.

Ketegangan antara AS dan Iran terkait program nuklir meningkat seiring dengan pecahnya perang di Iran pada akhir Februari. Presiden AS, Donald Trump, menyebut perang tersebut sebagai upaya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Amerika Serikat menuduh Iran melanggar ketentuan NPT dengan menolak memberi akses penuh kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk inspeksi di beberapa lokasi nuklir.

Iran sendiri menganggap serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap fasilitas nuklirnya bertentangan dengan hukum internasional dan aturan yang diatur dalam NPT. Dalam perundingan, AS menuntut agar Iran disebut dalam dokumen akhir karena pelanggaran kewajiban NPT, sementara Iran menginginkan agar AS dan Israel juga dikritik atas serangan yang pernah mereka lakukan.

Gagalnya konferensi ini menandai melemahnya fondasi NPT akibat sikap keras dari negara-negara besar. Para pengamat menilai bahwa kondisi ini memerlukan diplomasi yang lebih pragmatis dan aktif agar perlombaan senjata nuklir di dunia tidak semakin memburuk dan tak terkendali.

Hingga saat ini, konferensi belum menunjukkan tanda-tanda lanjutan pembicaraan yang dapat mencapai kesepakatan. Komunitas internasional diharapkan dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kebuntuan dan mengurangi risiko konflik nuklir yang semakin mengancam keamanan global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.