Media Kampung – Fenomena pendakian ilegal di Gunung Merapi mengalami peningkatan tajam yang didorong oleh rasa takut kehilangan tren atau FOMO (fear of missing out) di media sosial. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Heri Wibowo, mengungkapkan bahwa banyak pendaki nekat menembus kawasan yang sudah ditutup demi konten dan pengakuan di lingkungan sosial maupun daring.

Heri menyebutkan, dalam catatan petugas terdapat sekitar 60 orang yang mencoba mendaki Merapi secara ilegal untuk mendapatkan pengalaman yang menantang dan konten unik. Namun, tindakan ini sangat membahayakan mengingat status gunung yang masih aktif dan berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal.

Untuk mengantisipasi penyusupan, petugas melakukan patroli rutin dengan bantuan CCTV dan jalur monitoring khusus. Meski upaya ini mempersempit ruang gerak para pendaki ilegal, ancaman kecelakaan tetap mengintai di area tersebut yang sudah masuk zona siaga.

Pihak TNGM juga melakukan pemeriksaan dan wawancara terhadap pendaki ilegal yang berhasil diamankan guna memahami motivasi mereka. Heri menegaskan bahwa peran keluarga dan institusi pendidikan sangat penting dalam memberikan edukasi dan pengawasan agar fenomena ini tidak terus berlanjut.

Selain itu, masyarakat lokal juga diharapkan ikut berpartisipasi dalam mengawasi dan mencegah pendakian ilegal. Heri menambahkan bahwa pendekatan persuasif melalui edukasi dan penerapan sanksi sosial terbukti efektif menekan perilaku berisiko di kalangan remaja dan anak muda.

Kesadaran publik terhadap larangan dan konsekuensi pendakian ilegal menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan serta kelestarian Gunung Merapi. Upaya kolaboratif dari berbagai pihak diperlukan agar angka pendakian ilegal dapat ditekan dan keselamatan pendaki tetap terjaga.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.