Media Kampung – Jumlah pendaki ilegal yang mencoba menaklukkan Gunung Merapi terus meningkat tajam. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Heri Wibowo, menyatakan bahwa fenomena ini dipicu oleh rasa takut ketinggalan tren (FOMO) yang berkembang di media sosial, sehingga banyak anak muda nekat menerobos kawasan yang sudah ditutup demi konten daring.
Heri menjelaskan bahwa sebagian besar pendaki ilegal yang berhasil diamankan berusia antara 15 hingga 25 tahun, mayoritas pelajar dan mahasiswa. Mereka terdorong untuk membuktikan kemampuan serta mencari pengakuan melalui unggahan di media sosial, tanpa mempertimbangkan risiko keselamatan yang sangat tinggi di kawasan Gunung Merapi yang berstatus siaga.
Petugas TNGM tidak hanya menangkap, tetapi juga mewawancarai para pendaki ilegal untuk memahami motivasi mereka. Heri menegaskan bahwa faktor utama adalah tekanan dari tren media sosial yang membuat remaja nekat melakukan pendakian meski lokasi tersebut berbahaya dan dilarang.
Selain pengawasan ketat, Heri menyoroti peran penting keluarga dan institusi pendidikan dalam memberikan edukasi dan pendampingan. Ia menilai keterlibatan orang tua, guru, dan masyarakat sekitar sangat krusial untuk mengurangi angka pendakian ilegal yang berpotensi membahayakan nyawa.
Kesadaran publik terhadap larangan mendaki dan konsekuensi serius jika dilanggar harus terus ditingkatkan melalui pendekatan edukasi persuasif dan pemberian sanksi sosial. Langkah ini diharapkan dapat menekan perilaku berisiko yang dipicu oleh keinginan mengikuti tren daring di kalangan anak muda.
Heri mengingatkan bahwa olahraga pendakian bukan sekadar tantangan fisik, tetapi juga membutuhkan pemahaman penuh terhadap kondisi alam dan keselamatan. Pengabaian terhadap hal tersebut dapat berakibat fatal, mengingat Gunung Merapi masih aktif dan memiliki potensi bahaya yang tinggi.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, pihak TNGM terus memantau situasi dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan serta keselamatan di kawasan Merapi. Penegakan aturan dan edukasi menjadi kunci utama agar kejadian pendakian ilegal dapat diminimalisir dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi para pendaki maupun lingkungan sekitar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan