Media Kampung – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengungkap bahwa sejumlah pendaki ilegal memanfaatkan jalur tikus untuk memasuki kawasan Gunung Merapi. Cara ini dipilih agar mereka bisa menghindari pengawasan dari petugas dan kamera pemantau yang terpasang di titik-titik resmi pendakian.
Kepala Balai TNGM Jawa Tengah, T. Heri Wibowo, menyampaikan bahwa para pendaki ilegal umumnya mulai masuk kawasan pada dini hari hingga pagi hari. Waktu tersebut dianggap paling aman untuk mengelabui petugas yang melakukan penjagaan rutin. “Ada yang masuk dini hari. Ada juga yang pagi hari sebelum petugas melakukan penjagaan rutin,” ujarnya saat wawancara dengan PRO3 RRI pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Meski petugas telah memasang kamera pengawas dan kamera jebak di jalur-jalur pendakian, para pendaki ilegal tetap mencari celah dengan melewati pintu-pintu lain yang tidak resmi. Setelah terdeteksi melalui kamera, petugas langsung berupaya mencari dan menindaklanjuti keberadaan pendaki tersebut.
Heri menjelaskan bahwa jalur tikus yang dipakai biasanya berupa jalan setapak yang sebelumnya pernah digunakan oleh pendaki resmi sebelum kawasan ditutup. Salah satu jalur alternatif yang sering dipakai berada di wilayah Boyolali, Jawa Tengah. Dengan menggunakan jalur ini, pendaki ilegal berharap tidak terpantau kamera maupun petugas yang berjaga.
Sementara itu, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyoroti fenomena anak muda yang kerap mendaki gunung tanpa persiapan yang memadai. Hal ini menurutnya dipicu oleh rasa takut ketinggalan tren atau FOMO (fear of missing out). “Karena zaman sekarang ini ada FOMO anak-anak muda, fear of missing out. Karena ngetren semua berangkat, tapi yang tak kalah penting itu juga kesadaran dan menyiapkan diri,” ujarnya.
Menteri juga mengingatkan bahwa aktivitas mendaki gunung bukan seperti wisata biasa yang bisa dilakukan tanpa persiapan khusus. Perlu perlengkapan dan kondisi fisik yang baik agar kegiatan berjalan aman. Ia menegaskan bahwa siapa pun boleh menjelajahi taman nasional, asalkan tetap bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri.
Hingga kini, Balai TNGM terus meningkatkan pengawasan dan melakukan patroli untuk mengantisipasi pendaki ilegal yang masuk melalui jalur tak resmi. Upaya ini penting untuk menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan di kawasan Gunung Merapi, terutama mengingat status gunung yang aktif dan rawan bahaya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan