Media Kampung – Tim SAR mengumumkan pada Rabu (6/5) bahwa tubuh Ajib, korban terakhir dalam tragedi perahu terbalik Gresik, telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, menambah jumlah korban menjadi tiga orang.
Kepala BPBD Gresik, Sukardi, menyatakan bahwa pencarian otomatis selesai setelah penemuan tersebut.
“Sekitar pukul 06.15 WIB kami menerima informasi dari kapal yang melintas bahwa ditemukan adanya tanda‑tanda korban,” kata Sukardi dalam keterangannya.
Dua jam kemudian tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi jasad Ajib yang berusia 66 tahun.
Jasad korban ditemukan mengapung 5,7 mil laut atau sekitar 10,5 kilometer dari lokasi kecelakaan, tepat di perairan dekat pelabuhan PLTU Gresik.
Setelah diangkat, tubuh Ajib langsung dibawa ke RSUD Ibnu Sina untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Sukardi menegaskan, “Operasi resmi ditutup dengan hasil ditemukan semua korban dalam keadaan meninggal dunia.”
Ajib bergabung dengan dua rekannya yang sebelumnya telah ditemukan meninggal, yaitu Sukir dan Halimi.
Dua ABK lainnya, Yusuf dan Abdul Alim, berhasil selamat dari kejadian.
Kecelakaan bermula pada Sabtu (3/5) malam, ketika sebuah perahu berlayar dari wilayah Lumpur menuju Kamal, Madura, untuk membeli besi tua.
Perahu yang mengangkut lima orang ABK—Ajib, Halimi, Abdul Alim, Yusuf, dan Sukir—kembali ke pelabuhan PLTU Gresik sekitar pukul 19.00 WIB dengan muatan tiga ton besi tua.
Saat mendekati pelabuhan, perahu tersebut tertabrak kapal besar yang melintas, menyebabkan masuknya air dan akhirnya perahu miring serta tenggelam.
Data korban yang dikonfirmasi meliputi: Ajib (66 tahun, meninggal), Halimi (32 tahun, meninggal), Sukir (42 tahun, meninggal), Yusuf (45 tahun, selamat), dan Abdul Alim (31 tahun, selamat).
Penemuan jasad Ajib menandai berakhirnya operasi pencarian yang melibatkan unit SAR gabungan, aparat kepolisian, dan relawan lokal.
Tim SAR melaporkan bahwa prosedur evakuasi dilakukan secara cepat dan terkoordinasi, meminimalkan risiko bagi anggota penyelamat.
Insiden ini menambah catatan kecelakaan laut di wilayah Gresik, yang sebelumnya juga pernah dilaporkan pada kasus perahu muat besi tua tenggelam dengan dua ABK hilang dan satu tewas.
Pemerintah Kabupaten Gresik berjanji akan meningkatkan pengawasan lalu lintas laut di sekitar area pelabuhan PLTU guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Selain itu, pihak berwenang akan memperketat prosedur keselamatan bagi kapal kecil yang beroperasi di jalur pelayaran utama.
Warga setempat menyatakan keprihatinan mendalam atas kehilangan nyawa para ABK, sekaligus mengapresiasi upaya cepat tim SAR dalam menuntaskan pencarian.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap regulasi keselamatan maritim, terutama bagi kapal yang mengangkut muatan berat seperti besi tua.
BPBD Gresik menegaskan bahwa semua data korban telah diverifikasi, dan proses identifikasi lanjutan akan dilaporkan kepada keluarga masing‑masing.
Dengan berakhirnya operasi pencarian, fokus kini beralih pada penanganan keluarga korban dan evaluasi prosedur keselamatan maritim di wilayah tersebut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan