Media Kampung – Fenomena panic buying tidak hanya terjadi saat pandemi, tetapi juga melanda para penggemar musik saat war tiket konser. Kepanikan sesaat akibat gagal mendapatkan tiket resmi sering dimanfaatkan oleh penipu untuk melancarkan aksinya.
Apa Itu Panic Buying?
Secara sederhana, panic buying adalah tindakan membeli barang dalam jumlah besar secara tiba-tiba karena ketakutan akan kelangkaan atau kenaikan harga. Dalam konteks tiket konser, kelangkaan dan FOMO (Fear of Missing Out) menjadi pemicu utama.
Saat tiket resmi ludes, banyak penggemar langsung mencari tiket dari calo atau jastip tanpa berpikir panjang. Logika rasional dikesampingkan oleh dorongan emosional untuk segera mengamankan tiket.
Modus Penipuan di Balik War Tiket
Penipu sangat memahami momen kepanikan ini. Mereka memasang jebakan berupa akun palsu dengan bukti tiket editan, testimoni palsu, hingga tawaran COD palsu dengan meminta uang muka.
Setelah war tiket usai, biasanya bermunculan cuitan WTB (Want to Buy) dan WTS (Want to Sell) di media sosial. Di sinilah mangsa empuk berdatangan.
Tips Aman Agar Tidak Tertipu
Untuk menghindari penipuan akibat panic buying, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Tunda keputusan 24 jam. Jangan langsung membeli dari calo pada hari yang sama. Beri waktu agar emosi mereda.
- Lakukan riset mandiri. Cek profil penjual, minta bukti screen record, bukan sekadar screenshot.
- Hindari transfer DP atau full payment. Penipu sering menekan dengan urgensi. Sebaiknya pilih transaksi COD tiket fisik.
- Gunakan rekening bank besar. Hindari transfer ke e-wallet karena lebih sulit dilacak. Bank besar memiliki verifikasi data yang lebih ketat.
- Cek nomor rekening atau telepon. Gunakan situs seperti CekRekening.id untuk melihat apakah nomor tersebut pernah dilaporkan sebagai penipu.
Konser adalah hiburan, bukan beban. Jika belum rezeki mendapatkan tiket, lebih baik menerima dengan lapang dada daripada kehilangan uang karena penipuan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan