Media Kampung, Tangerang Selatan – Warga Perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, mempertanyakan tenggat waktu perbaikan kualitas air yang dijanjikan pengelola instalasi pengolahan air (IPA) atau water treatment plant (WTP). Mereka juga meminta kejelasan mengenai kompensasi bagi penghuni yang mengalami gangguan kesehatan di tengah persoalan kualitas air yang dikeluhkan.

Hal itu disampaikan warga dalam pertemuan bersama Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan di Sport Club Serpong Lagoon, Kamis (15/10). Salah seorang warga meminta pengelola memberikan kepastian mengenai durasi perbaikan serta perkembangan penanganan masalah kualitas air di kawasan perumahan tersebut. “Tadi dari WTP berjanji untuk perbaikan, berapa lama Waktunya berapa lama Progresnya seperti apa” ujar warga yang enggan disebutkan namanya dalam dialog dengan Wakil tersebut.

Wakil Walikota Tangsel Pilar Saga Ichsan meninjau WTP dan danau penampungan air di perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, Kamis, (15/10). Selain menanyakan tenggat perbaikan, warga itu juga menyoroti tanggung jawab pengelola terhadap penghuni yang mengalami gangguan kesehatan. Ia meminta kejelasan mengenai kompensasi yang dapat diberikan kepada warga yang sakit. “Terus kompensasi buat kita warga yang sakit seperti apa” katanya.

Warga tersebut juga mengusulkan agar seluruh penghuni yang menggunakan air dari WTP menjalani pemeriksaan kesehatan. Menurut dia, pemeriksaan itu diperlukan untuk mengetahui apakah ada gangguan kesehatan yang dialami warga. “Kalau saya sih saran malah gini, Pak Wakil, izin. Kita semua ini warga konsumsi air WTP sekian banyak rumah, kenapa enggak kita dites semua aja warga yang di sini” ungkapnya. Ia mengusulkan pemeriksaan darah, urine, dan pemeriksaan kesehatan lainnya terhadap warga. “Kenapa enggak dicek darahnya, dicek urinnya, dicek segala macam Ada masalah enggak di setiap-tiap warga” katanya.

Warga itu juga mempertanyakan kemungkinan jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan lebih banyak daripada yang telah teridentifikasi. “Jangan-jangan angkanya jauh lebih drastis sebenarnya,” tutupnya.