Media Kampung, Tangerang Selatan – Angie, seorang warga Perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, mengaku terkejut setelah mengetahui bahwa sampel air dari rumahnya positif mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) dengan angka 660. Temuan ini terungkap ketika anaknya sempat menjalani rawat inap akibat demam tinggi dan diare.
Menurut Angie, anaknya mulai sakit pada Senin dengan gejala demam tinggi dan lemas. Meskipun sudah diberikan obat, demamnya kembali muncul pada hari berikutnya. “Panas tinggi, lemas. Kita kasih obat pun turun, tapi ternyata besoknya itu kembali lagi,” ujar Angie saat diwawancarai pada Kamis (15/10).
Di hari Rabu, kondisi anaknya semakin memburuk dengan diare, di mana fesesnya hampir seluruhnya berupa cairan. Angie mencoba memberikan oralit, tetapi anaknya justru muntah. Ia pun membawa anaknya ke rumah sakit pada Kamis pagi. “Full air, tidak ada ampas sedikit pun di badan dia. Tiga kali itu kejadian, saya pesan oralit sebagai ini ya P3K ya, langsung diminomin, muntah anak saya,” jelasnya.
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyarankan agar anak Angie dirawat inap selama tiga hari. Selama perawatan, Angie juga menunggu hasil uji sampel feses anaknya di laboratorium. “Tiga hari dirawat itu kita menunggu feses dari anak saya,” tambahnya.
Karena itu, Angie memutuskan untuk membawa sampel feses anaknya ke laboratorium secara mandiri dengan menggunakan tes GI panel lengkap. “Saya masukin langsung ke lab secara saya pribadi, saya bayar pribadi dengan GI panel lengkap saya order-nya. Hasilnya keluar di Minggu malam. Positif Rotavirus juga E. coli,” ujarnya.
Selama anaknya dirawat, Angie mendapat informasi dari kader setempat tentang pendataan warga yang bersedia rumahnya diperiksa sampel airnya. Ia kemudian meminta agar rumahnya juga diperiksa karena anaknya sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Hasilnya menunjukkan sampel air rumah tersebut positif E. coli dengan angka 660.
“Ditemukan kecocokan bahwa di dalam tubuh anak saya ada E. coli dan di rumah saya airnya itu ada E. coli-nya dengan tingkat 660. Jadi cocok, ya,” kata Angie.
Setelah anaknya keluar dari rumah sakit pada Minggu, Angie langsung mengumpulkan laporan bersama warga lainnya dan mengantarkan sendiri laporan tersebut ke DPRD agar masalah ini mendapat tindak lanjut. “Saya pribadi sendiri yang langsung antar suratnya, laporan ke DPRD, sehingga akhirnya sekarang bisa diproses, alhamdulillah, secara cepat,” tutupnya.
Selain itu, Angie sampai membeli 10 galon air untuk kebutuhan Mandi, Cuci, Kakus (MCK). “Saya udah beli galon sendiri 10 langsung, itu saat saya dengar hasilnya di rumah saya itu 660 itu, langsung saya beli galon untuk saya anak saya mandi,” ujarnya. Ia juga menggunakan air galon tersebut untuk keperluan memasak dan tidak menggunakan air keran. “Saya masak enggak pernah pakai air keran, selalu air galon,” tambahnya.
Angie memilih untuk memprioritaskan penggunaan air galon untuk anaknya, sementara dirinya masih menggunakan air dari WTP untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau saya pribadi, saya masih pakai air WTP, mau enggak mau. Tapi kalau anak saya full, sudah lengkap,” tutup Angie.













