Media Kampung, Tangerang Selatan – Sebanyak 146 anak dan orang dewasa di Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), dilaporkan mengalami muntah dan diare (muntaber), diduga disebabkan oleh air dari instalasi pengolahan air (water treatment plant/WTP) yang mengalir ke rumah-rumah mereka. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel menyebut hasil pemeriksaan laboratorium positif E. coli dan mengimbau warga untuk tidak mengonsumsi air dari jaringan distribusi perumahan.

Kejadian ini terungkap pada Rabu (7 Oktober), ketika seorang ibu melaporkan di grup warga bahwa anaknya demam, muntah, dan diare. Warga lain mengonfirmasi bahwa anak mereka juga mengalami gejala serupa, bahkan ada yang sudah mengalami gejala sejak 17 September. “Seorang Ibu melaporkan di grup warga bahwa seorang anak mengalami demam, muntah, dan diare, kemudian dikonfirmasi oleh warga lainnya yang anaknya juga mengalami hal yang sama,” kata Arnis Silvia, perwakilan warga.

Ketua RT 04 RW 07 Heru Cahyono menyebut total korban terdiri atas orang tua dan anak. “(Total ada) 146. Campuran ya orang tua dan anak,” kata Heru.

Novi, salah satu warga, menceritakan bahwa anaknya yang berusia tujuh bulan mengalami diare selama dua hari. Awalnya, ia mengira penyebabnya adalah makanan pendamping ASI (MPASI). Namun, sebelum sempat membawanya ke dokter, anak sulungnya juga ikut sakit pada tengah malam. “Jam setengah satu malam tiba-tiba diare, muntah, diare, muntah. Dan itu terus intens sampai kira-kira jam setengah lima subuh. Terakhir dia muntah di toilet, dia pingsan, langsung kita bawa ke UGD,” ungkap Novi.

Novi menyebut keluarganya menggunakan air WTP untuk mandi, mencuci, dan kakus (MCK), sementara untuk minum menggunakan air kemasan atau isi ulang. “Air keran di rumahnya terkadang keruh dan berpasir,” katanya.

Berdasarkan pemeriksaan puskesmas terhadap sampel air dari salah satu rumah, ditemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) sebesar 5-7 CFU, padahal kandungan yang dipersyaratkan seharusnya nol. Hasil uji sampel pada 7 Oktober hanya mencakup analisis fisika dan kimia, sehingga air tersebut dinyatakan tidak memenuhi baku mutu menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, namun belum mencakup uji mikrobiologi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel, Fitria Oriza, menjelaskan bahwa lonjakan kasus hanya terjadi di satu kawasan perumahan dan belum dilaporkan menyebar ke perumahan lain. “E. coli-nya positif. Peningkatan kasus karena sumbernya sama. Jadi jelas penyebabnya air dari WTP itu,” ujarnya.

Sementara itu, warga juga menyebut telah menelusuri jalur penularan lain, mulai dari interaksi antar anak di sekolah, air minum kemasan, hingga makanan dan jajanan, dan tidak menemukan kesamaan paparan. Seluruh rumah terdampak dilaporkan menerima pasokan air dari penyedia yang sama. Beberapa warga bahkan memasang filter tambahan secara mandiri, tetapi kasus masih terjadi di beberapa rumah berfilter.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) yang diadakan, warga meminta agar pihak WTP mempercepat perbaikan kualitas air dan mengusulkan agar sumber air disegel. “Air bersih bukanlah tuntutan, ia adalah kebutuhan dasar. Keselamatan warga bukan hanya bahan audiensi, ia adalah hak asasi. Permintaan maaf jangan jadi retorika, harus berujung pada tindakan nyata,” ujar Arnis.

Ketua RT 04 RW 07 Heru Cahyono menambahkan bahwa warga juga membuka peluang untuk menempuh jalur hukum jika tidak ada tindakan tegas mengenai masalah ini. “Kemungkinan itu akan ada. Karena kan kita tahu sendiri bahwa air itu berbahaya. Tapi selayaknya kami sebagai konsumen adalah mendapatkan kualitas air yang memang layak untuk kita gunakan,” tambahnya.