Media Kampung – Isra Miraj tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik Nabi Muhammad, tetapi juga sebagai alegori perjalanan intelektual jiwa menuju kesempurnaan. Pandangan ini datang dari filsuf besar abad ke-11, Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn Sina, yang dikenal di Barat sebagai Avicenna.

Dalam karyanya berjudul Miraj Namah, Ibn Sina menawarkan pembacaan alegoris dan filosofis atas peristiwa Isra Miraj. Baginya, perjalanan tersebut bukan sekadar kisah fisik, melainkan peta perjalanan jiwa menuju kesempurnaan intelektual.

Miraj sebagai Alegori Akal

Ibn Sina percaya bahwa alam semesta tercipta melalui emanasi dari Akal Pertama yang bersumber dari Tuhan. Manusia berdiri di persimpangan dunia materi dan dunia akal yang abadi. Dalam sistem kosmologinya, terdapat sepuluh Akal berurutan, dari Akal Pertama hingga Akal Kesepuluh yang disebut Akal Faal (Akal Aktif).

Perjalanan menembus langit ketujuh dalam Miraj, menurut Ibn Sina, adalah alegori jiwa yang menaiki tangga-tangga Akal. Mulai dari akal material, melewati akal aktual, akal mustafad, hingga akhirnya bersatu dengan Akal Aktif. Sidratul Muntaha menjadi titik di mana jiwa mencapai kesempurnaan intelektual, kondisi yang oleh sufi disebut fana.

Rahasia bagi yang Layak

Dalam Miraj Namah, Ibn Sina memberikan peringatan tegas. Ia menyatakan bahwa rahasia harus dijaga dari mereka yang tidak layak. Tulisannya ditujukan bagi mereka yang memiliki kapasitas intelektual, bukan kaum awam. Ini sejalan dengan tradisi filsafat esoteris di kalangan filsuf Islam.

Ibn Sina menegaskan bahwa Nabi Muhammad memiliki kapasitas nubuwwah, kemampuan profetis yang memungkinkan penerimaan pancaran dari Akal Aktif secara sempurna. Miraj menjadi bukti kesempurnaan kenabian, bukan karena keistimewaan fisik, melainkan karena jiwa Nabi telah mencapai tingkat intelektual tertinggi.

Pertentangan dengan Al-Ghazali

Tafsir ini tidak luput dari pertentangan. Al-Ghazali, filsuf dan teolog yang hidup satu abad setelah Ibn Sina, secara eksplisit menyerang rasionalisasi filosofis semacam itu. Dalam Tahafut al-Falasifah, ia menganggap pengalihan makna Miraj menjadi alegori intelektual sebagai pengurangan terhadap kesempurnaan kenabian.

Namun, menariknya, Al-Ghazali sendiri dalam Misykat al-Anwar menggunakan bahasa yang mirip dengan Ibn Sina untuk menggambarkan hierarki cahaya dan jiwa. Seperti dikaji Suliman Bashir Diagne, Al-Ghazali dan Ibn Sina bersama-sama membentuk dialektika yang memperkaya tradisi filsafat Islam.

Relevansi untuk Zaman Modern

Membaca Miraj sebagai alegori perjalanan intelektual tidak memiskinkan dimensi keimanan. Sebaliknya, ia membuka dimensi lain bahwa iman dan akal, wahyu dan filsafat, tidak saling meniadakan. Ibn Sina mengajarkan bahwa jiwa yang berjalan menuju Tuhan juga bergerak menuju kebenaran melalui akal yang diasah.

Di tengah dunia yang bising dengan klaim agama dangkal dan pemikiran yang enggan dikritisi, pesan Ibn Sina sangat relevan. Perjalanan spiritual sejati adalah perjalanan intelektual yang menuntut kejujuran, keberanian, dan kecintaan pada kebenaran di atas segalanya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.