Media Kampung – Idul Adha 1447 Hijriah segera tiba dengan berbagai persiapan ibadah, termasuk pelaksanaan salat Idul Adha dan khotbah yang menjadi bagian penting dalam perayaan hari raya kurban ini. Salat Idul Adha dilakukan secara berjamaah dengan dua rakaat dan memiliki keunikan dalam tata caranya, terutama pada jumlah takbir yang berbeda dari salat biasa.
Salat Idul Adha terdiri dari dua rakaat dengan tujuh kali takbir tambahan pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram, dan lima kali takbir pada rakaat kedua sebelum membaca surat Al-Fatihah. Pelaksanaan salat ini biasanya dimulai sejak terbit matahari hingga waktu Zuhur, dengan waktu pelaksanaan yang umum berada pada rentang pukul 06.00 sampai 08.00 pagi waktu setempat di Indonesia. Waktu salat Idul Adha ini juga disesuaikan dengan tradisi dan kebiasaan di masing-masing daerah.
Di Masjid Raya Al-Mashun Medan, misalnya, pelaksanaan salat Idul Adha pada tahun ini dijadwalkan dimulai pukul 07.45 WIB. Ketua Badan Kenaziran Masjid, Syafrizal, menyebutkan bahwa meskipun waktu mulai salat sekitar pukul 07.45 hingga 08.00 WIB, banyak jamaah yang sudah datang sejak subuh dan menetap di masjid. Diperkirakan ribuan jamaah akan mengikuti salat berjamaah di lokasi tersebut, mengisi ruang dalam dan area luar masjid.
Setelah salat, khutbah Idul Adha akan disampaikan oleh Dr. Syarifuddin L. Hayat, seorang dosen dan akademisi yang sudah ditunjuk sebagai khatib. Tradisi penyembelihan hewan kurban di Masjid Raya Medan mengikuti adat Kesultanan Deli, di mana penyembelihan dilakukan pada hari kedua Idul Adha dengan jumlah hewan kurban yang berasal dari masyarakat dan pejabat setempat.
Pelaksanaan salat Idul Adha berbeda dengan salat wajib lainnya, yakni tidak disertai azan dan iqamah. Hal ini berdasarkan riwayat dari Jabir bin Abdillah r.a yang menyatakan bahwa Rasulullah saw memulai salat Id tanpa azan dan iqamah. Selain itu, salat Idul Adha memiliki kesamaan jumlah rakaat dengan salat Subuh, yaitu dua rakaat, tetapi dengan tata cara yang lebih khusus.
Dalam khotbah dan salat Idul Adha, jamaah juga dianjurkan membaca dzikir seperti tasbih, tahmid, dan tahlil di antara takbir tambahan. Bacaan tersebut mengandung pujian dan kebesaran kepada Allah, sekaligus meningkatkan kekhusyukan dalam menjalankan ibadah. Kementerian Agama Republik Indonesia juga menyediakan materi khutbah Idul Adha untuk memudahkan para khatib dalam menyampaikan pesan keagamaan yang sesuai dengan nilai dan makna hari raya ini.
Perbedaan waktu pelaksanaan salat Idul Adha dan Idul Fitri memang ada, namun secara umum keduanya dilaksanakan pada pagi hari antara pukul 06.00 sampai 08.00 WIB. Waktu terbaik untuk melaksanakan salat Id adalah saat matahari sudah naik setinggi satu tombak dan sebelum tergelincirnya matahari, sesuai dengan pendapat ulama Syafi’iyah dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
Idul Adha tidak hanya menjadi momentum melaksanakan salat Id dan khotbah, tetapi juga saat penting untuk mempererat silaturahmi dan berbagi melalui penyembelihan hewan kurban. Di banyak daerah, tradisi dan pelaksanaan kurban mengikuti kebiasaan lokal yang telah berakar, seperti di Medan yang melaksanakan penyembelihan pada hari kedua Idul Adha.
Dengan persiapan matang dari berbagai pihak, termasuk pengaturan waktu salat, materi khutbah, dan penyembelihan kurban, perayaan Idul Adha 1447 H di Indonesia diharapkan berlangsung lancar dan khidmat. Jamaah diimbau untuk datang lebih awal agar dapat mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk dan tertib.
Pelaksanaan salat dan khotbah Idul Adha menjadi momen refleksi dan penguatan iman bagi umat Muslim, mengingatkan pentingnya ketakwaan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah. Dengan begitu, Idul Adha tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga sarana pembelajaran nilai-nilai agama yang mendalam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan