Media Kampung – Penyanyi dan solois Nadin Amizah kembali meluncurkan album studio ketiganya yang bertajuk Laika, Yang Ditinggalkan. Album ini menghadirkan 11 lagu yang mengangkat tema emosional terkait fenomena fatherless, yakni kondisi seseorang yang tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan emosional dari figur ayah.

Nama album ini terinspirasi dari kisah tragis Laika, seekor anjing betina asal Uni Soviet yang dikirim dalam misi satu arah ke luar angkasa pada tahun 1957. Laika meninggal akibat kondisi panas berlebih dan stres di dalam kabin penerbangan. Sosok Laika menjadi metafora utama dalam album Nadin Amizah, menggambarkan perasaan terisolasi, luka batin, dan rasa ditinggalkan yang dialami oleh anak-anak yang kehilangan sosok pelindung.

Baca juga:

Peluncuran album ini juga menampilkan konsep pertunjukan yang unik, termasuk sesi dengar yang digelar di M Bloc Space. Dalam acara tersebut, anak dalang cilik Kitama Arturo menjadi narator dan memainkan teater bayangan wayang kertas yang dipadukan dengan musik dari album tersebut. Kitama memvisualisasikan kisah dari 11 lagu dalam bentuk teater bayangan, menambah dimensi seni dan narasi visual pada album.

Selain itu, Nadin Amizah juga melibatkan anjing-anjing rescue dari shelter @dogs.needlove dalam visualizer album ini. Langkah ini tidak hanya memperkaya visualisasi tapi juga mengampanyekan pesan adopt responsibly atau adopsi hewan secara bertanggung jawab, sebagai bentuk komitmen jangka panjang untuk memberikan kasih sayang dan lingkungan aman bagi hewan peliharaan.

Baca juga:

Album ini diproduksi di bawah label independen Sorai dengan kolaborasi bersama 10 produser berbeda, termasuk Lafa Pratomo, Baskara Putra, Enrico Octaviano, dan Otta Tarega. Setiap lagu menyampaikan spektrum emosi yang mentah dan mendalam, menggambarkan dinamika psikologis dan perasaan anak-anak yang tumbuh dalam ruang hampa emosional.

Berikut beberapa poin penting tentang album Laika, Yang Ditinggalkan:

Baca juga:
  • Album berisi 11 lagu yang menjadi representasi perasaan terisolasi dan luka batin.
  • Konsep pertunjukan unik dengan teater bayangan wayang kertas yang dimainkan oleh Kitama Arturo, dalang cilik sekaligus narator.
  • Kolaborasi dengan komunitas penyelamat hewan dalam visualizer album, mengampanyekan adopsi hewan secara bertanggung jawab.
  • Penggunaan kisah Laika sebagai metafora untuk menggambarkan fenomena fatherless dan rasa ditinggalkan.
  • Produksi album melibatkan beberapa produser ternama yang menghadirkan warna musik yang beragam dan mendalam.

Dengan kombinasi musik, narasi visual, dan pesan sosial, album ini tidak hanya menjadi karya seni yang memanjakan telinga, tetapi juga menyentuh hati dan mengajak pendengar untuk merenungkan isu-isu sosial yang diangkat. Nadin Amizah berhasil menghadirkan karya yang bernilai dan relevan dengan kondisi sosial saat ini, sekaligus memperlihatkan kreativitas dan kepedulian melalui musik.