Media Kampung, Jombang – Perebutan posisi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada tahun 2026 semakin memanas. Nama-nama ulama sepuh seperti KH Nurul Huda Djazuli dan KH Anwar Mansur menjadi pusat perhatian, dengan munculnya perdebatan terkait pencalonan mereka dalam jajaran AHWA.
Dinamika dalam Pembahasan Tata Tertib
<pPada Sabtu, 29 Agustus 2026, Komisi Organisasi Muktamar NU menggelar pembahasan tata tertib di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Dalam forum tersebut, muncul isu adanya upaya dari salah satu kubu untuk mengecualikan KH Nurul Huda Djazuli dan KH Anwar Mansur, yang berasal dari poros Lirboyo, dari daftar kandidat AHWA.
Penolakan keras disampaikan oleh sejumlah alumni Pondok Pesantren Lirboyo yang kini menjabat sebagai Ketua PCNU maupun PCI NU, yang hadir dalam pembahasan tersebut. Mereka menegaskan bahwa kedua ulama ini merupakan tokoh khos dan sepuh yang berjasa dalam menjaga marwah NU dan harus mendapat tempat dalam mekanisme pemilihan AHWA.
Menjaga Marwah NU di Tengah Persaingan
<pSeorang Ketua PCNU dari Kalimantan yang memilih tidak disebutkan namanya menegaskan bahwa pemilihan anggota AHWA harus bebas dari pengaruh kelompok atau kubu tertentu. Para ulama dengan rekam jejak panjang dalam menjaga tradisi Nahdlatul Ulama wajib dihormati dan diberikan posisi yang layak dalam organisasi.
“Ini bukan sekadar persoalan kubu. Ini menyangkut penghormatan kepada ulama sepuh dan bagaimana marwah NU tetap terjaga,” ujarnya.
Perdebatan Nama Rois Aam PBNU
Selain perebutan anggota AHWA, dinamika juga terjadi seputar posisi Rois Aam PBNU, KH Miftakhul Akhyar. Beberapa pihak masih mengusulkan agar ia tetap mendapatkan tempat dalam AHWA Muktamar NU ke-35. Namun, usulan ini mendapat penentangan dari sebagian peserta muktamar yang mengingat dinamika kepengurusan sebelumnya saat KH Miftakhul Akhyar berkolaborasi dengan KH Yahya Cholil Staquf.
Persoalan ini menjadi bahan pertimbangan penting dalam memilih figur yang akan dimasukkan ke dalam AHWA, mengingat peran strategis AHWA dalam menentukan pemimpin tertinggi organisasi NU.
Posisi Strategis AHWA dalam Organisasi NU
AHWA memiliki peran krusial dalam tradisi organisasi NU sebagai forum ulama yang berwenang menentukan Rois Aam. Oleh karena itu, komposisi AHWA menjadi salah satu aspek paling penting dalam rangkaian Muktamar ke-35.
Tarik-menarik nama ulama sepuh dalam proses pemilihan menegaskan bahwa menentukan anggota AHWA bukan sekadar urusan administratif, melainkan juga berkaitan dengan arah kepemimpinan dan masa depan Nahdlatul Ulama.
Perkembangan Terkini dan Harapan Muktamirin
Dinamika di Komisi Organisasi menunjukkan bahwa proses pemilihan AHWA masih terus berkembang hingga Sabtu pagi. Nama-nama yang beredar saat ini belum merupakan daftar final dan akan diputuskan melalui mekanisme resmi Muktamar NU ke-35.
Para muktamirin menantikan rumusan tata tertib dan mekanisme pemilihan AHWA yang akan disepakati, sementara pertarungan nama-nama ulama sepuh diperkirakan akan berlanjut hingga keputusan resmi diambil.















Tinggalkan Balasan