Media Kampung – Ketua Umum PP Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil, memberikan penjelasan terkait momen hangat Presiden Prabowo Subianto yang menepuk pundaknya saat pembukaan Muktamar NU ke-35. Ia menegaskan bahwa gestur tersebut merupakan bentuk keakraban biasa yang tidak perlu ditafsirkan berlebihan.

Gus Nabil menyampaikan bahwa dirinya sudah lama mengenal Prabowo, bahkan pernah bersama-sama di organisasi PB IPSI selama lima tahun dengan posisi masing-masing sebagai Wakil Ketua Umum dan Ketua Umum. Keduanya memiliki latar belakang di dunia pencak silat dan komitmen yang sama terhadap Pancasila, persatuan, serta kebangsaan.

Baca juga:

“Pertemuan itu biasa dan spontan. Ketika Presiden lewat, menyapa, dan menepuk pundak saya, itu hanya bentuk keakraban sesama rekan organisasi tanpa pesan khusus maupun pembicaraan tentang dinamika internal Muktamar NU,” ujarnya pada 28 Agustus 2026.

Gus Nabil juga menegaskan bahwa seluruh proses dan dinamika Muktamar NU adalah kewenangan para muktamirin, kiai, dan warga NU sendiri. Pemerintah, termasuk Presiden, dihormati sebagai mitra strategis, namun urusan internal jam’iyyah NU harus diselesaikan sesuai mekanisme dan tradisi NU.

Baca juga:

Penghormatan Prabowo kepada Kiai Kampung

Terkait pidato Presiden Prabowo yang memberikan penghormatan kepada para ulama dan kiai kampung, Gus Nabil menilai hal tersebut sangat menyentuh dan menunjukkan pengakuan terhadap kekuatan sejati Nahdlatul Ulama (NU). Ia menjelaskan bahwa kiai kampung, meskipun sering tidak dikenal media, memiliki peran penting dalam menjaga akhlak generasi muda dan keberlangsungan tradisi keagamaan di akar rumput.

Presiden juga menyebut istilah “Jas Hijau” sebagai simbol penghormatan terhadap jasa ulama yang bekerja tanpa pamrih dan tanpa meminta imbalan dari negara, tetapi memberikan kontribusi besar bagi bangsa.

Baca juga:

Makna Muktamar NU ke-35

Menurut Gus Nabil, Muktamar NU ke-35 harus menjadi momentum untuk kembali menguatkan ruh NU yang sesungguhnya, yaitu khidmah para kiai dan warga NU yang tulus sampai ke kampung-kampung. Ia menegaskan bahwa NU besar bukan hanya karena struktur organisasi, melainkan karena ketulusan dan pengabdian tersebut.

“Tugas kita adalah menjaga marwah para kiai, menjaga persatuan jam’iyyah, dan memastikan NU tetap menjadi kekuatan moral yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkas Gus Nabil.