Media Kampung, Jakarta – Yestin Laia, ibu dari Winda Lorenza Gowasa (WLG), mantan istri Brigadir ISH yang meninggal dunia di Medan, menyuarakan permintaan agar kematian putrinya diusut secara tuntas. Tangis Yestin pecah saat ia berada di Kompleks Parlemen DPR Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026), ketika memeluk foto Winda dan berbicara kepada Komisi III DPR.
Yestin menegaskan belum sepenuhnya puas dengan hasil rapat yang membahas kasus tersebut, terutama karena tidak adanya tanggapan atas video yang memperlihatkan makam Winda yang telah digali. Ia meminta agar fokus penyelidikan tetap pada kematian putrinya dan tidak terpengaruh oleh isu-isu lain yang berkembang di media sosial.
Permintaan Penyelidikan Mendalam
Yestin meminta aparat kepolisian dan pejabat negara, termasuk Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan DPR, untuk membantu mengungkap kebenaran di balik kematian Winda. Ia berharap agar penyelidikan dapat memastikan apakah kematian Winda merupakan bunuh diri atau pembunuhan.
“Saya hanya ingin kematian anak saya diusut secara benar, apakah dibunuh atau bunuh diri,” ujar Yestin sambil menangis. Ia juga meminta agar barang-barang pribadi putrinya, seperti telepon seluler dan perhiasan, dikembalikan kepada keluarga.
Kejanggalan dalam Kasus Kematian Winda
Menurut Yestin, keluarga melihat sejumlah kejanggalan yang membuat mereka meragukan bahwa Winda meninggal karena bunuh diri. Ia mengungkapkan kecurigaan bahwa putrinya mungkin dibunuh, berdasarkan informasi dan fakta yang mereka peroleh.
Selain itu, Yestin mempertanyakan waktu kematian Winda. Ia mendapat informasi bahwa Winda meninggal sekitar pukul 14.30 WIB, namun ada juga informasi bahwa makamnya telah digali sebelum matahari terbit di pagi hari, yang menimbulkan pertanyaan tentang kronologi kejadian yang sebenarnya.
Proses Autopsi dan Penyelidikan
Yestin menyatakan belum menerima hasil autopsi Winda dan tidak diberi tahu saat proses autopsi maupun olah tempat kejadian perkara (TKP) dilakukan. Ia menekankan pentingnya transparansi agar keluarga dapat memahami proses penyelidikan secara menyeluruh.
Polrestabes Medan sebelumnya menyatakan bahwa Winda meninggal akibat bunuh diri dengan menggunakan senjata api milik mantan suaminya, ISH. Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, menyampaikan bahwa kesimpulan tersebut berdasarkan hasil olah TKP, pemeriksaan Inafis, Laboratorium Forensik (Labfor), dan autopsi. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan selain luka tembak di kepala korban.
Harapan Keluarga dan Masyarakat
Kasus ini menjadi perhatian publik dan menimbulkan berbagai spekulasi. Namun, Yestin mengingatkan agar fokus penyelidikan tetap pada fakta dan penyebab kematian putrinya. Ia berharap aparat penegak hukum dapat menjalankan tugasnya dengan objektif dan transparan untuk memberikan kejelasan dan keadilan.
Permintaan Yestin juga mencerminkan keresahan keluarga dan masyarakat terhadap proses hukum yang berjalan, sehingga diharapkan penyelidikan ini dapat menjadi contoh penanganan kasus yang serius dan berkeadilan.















Tinggalkan Balasan