Media Kampung, Bojonegoro – Ancaman perundungan siber atau cyberbullying menjadi persoalan serius yang mengintai mayoritas remaja di Kabupaten Bojonegoro. Survei yang dilakukan oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Bojonegoro terhadap 1.282 siswa SMASMK menunjukkan bahwa 52,5 persen responden pernah menyaksikan aksi cyberbullying di ruang digital, sementara 25 persen di antaranya berisiko tinggi karena kurangnya pemahaman tentang penanganan dan pemulihan akibat perundungan tersebut.

Situasi ini semakin diperparah dengan kebiasaan remaja menggunakan gawai secara berlebihan, termasuk aktivitas berselancar di internet larut malam dan waktu penggunaan gawai yang melebihi 4 jam per hari oleh sebagian besar siswa. Kondisi tersebut menegaskan bahwa tantangan utama bukan sekadar akses internet, melainkan bagaimana membentuk perilaku digital yang sehat, aman, dan etis di kalangan remaja.

Baca juga:

Sinergi Antarlembaga untuk Gerakan Digital Sehat

Menanggapi kondisi yang mengkhawatirkan ini, PDPM Bojonegoro menggandeng berbagai pihak, termasuk dukungan penuh dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas, serta Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro, untuk membangun gerakan bersama dalam meningkatkan literasi digital di kalangan siswa dan guru.

Pada tanggal 4-5 Agustus 2026, PDPM Bojonegoro mengadakan Kampanye Praktik Baik Siswa dan Pendampingan Guru yang diikuti oleh lebih dari 600 peserta dari 20 sekolah di wilayah barat, tengah, dan timur Bojonegoro. Kepala Dinas Kominfo Bojonegoro, Arif Afandy, memberikan pembekalan yang menekankan pentingnya kesiapan mental dan pengetahuan bagi pelajar agar dapat menjadi pemenang dalam kemajuan teknologi digital.

Pentingnya Pendidikan Literasi Digital

Arif Afandy menegaskan bahwa generasi pelajar saat ini adalah digital native yang tidak dapat menghindari perkembangan teknologi. Oleh karena itu, orang tua dan guru memiliki peranan penting untuk membekali anak-anak dengan kemampuan dan mentalitas yang memadai agar dapat bersaing secara sehat di dunia digital.

Baca juga:

Senada dengan itu, perwakilan EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, menyatakan bahwa program literasi digital yang telah berjalan sejak April 2026 menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi yang cerdas dan sehat secara digital. Program ini melibatkan pelatihan dan pendampingan bagi guru dan siswa terpilih di 20 sekolah untuk membangun ekosistem kesadaran digital yang berkelanjutan.

Dukungan dan Antusiasme dari Pelajar

Seorang siswa kelas 11 dari SMA Katolik Ignatius Slamet Riyadi, Devons Defaniel Waruwu, mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ini. Ia mengapresiasi cara penyampaian materi yang santai, lugas, dan mudah dipahami, serta menilai bahwa komitmen ExxonMobil tidak hanya fokus pada industri energi tetapi juga berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan literasi digital.

Setiap kelompok siswa di sekolah yang mengikuti program akan membuat karya kampanye digital internet sehat yang nantinya akan dilombakan pada festival literasi sebagai puncak kegiatan. Guru-guru pendamping juga berperan penting dalam mendampingi siswa secara berkelanjutan.

Baca juga:

Harapan untuk Generasi Indonesia Emas 2045

Ketua PDPM Bojonegoro, M. Imam Akbar Al Haromein, menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai pihak dan menegaskan bahwa upaya ini harus terus berjalan agar generasi muda Indonesia dapat berkembang menjadi generasi emas pada tahun 2045. Ia menekankan pentingnya kolaborasi semua pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan gerakan digital sehat di Bojonegoro.