Media Kampung – Amerika Serikat dan Kanada turut bergabung dalam penolakan terhadap rencana kontroversial FIFA yang ingin menjual saham dalam turnamen-turnamennya, termasuk Piala Dunia. Penolakan ini menyusul ancaman UEFA untuk memboikot Piala Dunia 2030 jika rencana tersebut tetap dilanjutkan.

UEFA, yang merupakan organisasi induk sepak bola Eropa, mengumumkan bahwa seluruh 55 asosiasi sepak bola anggotanya, termasuk Inggris, akan memboikot semua kompetisi FIFA jika rencana penjualan saham tersebut terealisasi. Tidak lama setelah itu, CONCACAF yang menaungi 41 asosiasi sepak bola di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia juga menyatakan penolakannya melalui pertemuan darurat yang membahas proposal tersebut.

Baca juga:

CONCACAF menegaskan keprihatinannya terkait kurangnya proses yang transparan dalam pengambilan keputusan serta tenggat waktu yang dianggap terlalu singkat. Organisasi ini menekankan bahwa sepak bola harus tetap menjadi pusat perhatian, bukan komoditas investasi. Penolakan ini mencerminkan kekhawatiran mendalam atas dampak jangka panjang terhadap integritas dan nilai-nilai olahraga.

Rencana FIFA menciptakan entitas komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola operasi komersial dari kompetisi utama FIFA seperti Piala Dunia Putra dan Putri. FIFA berencana menjual 21% saham FFE kepada investor luar, dengan tujuan memberikan dana hingga 20 juta dolar AS kepada setiap asosiasi anggota untuk proyek khusus, selain dana reguler FIFA Forward.

Baca juga:

Namun, rencana ini menuai kritik tajam. UEFA menyatakan bahwa Piala Dunia adalah warisan olahraga yang dibangun selama generasi oleh pemain, tim nasional, dan pendukung di seluruh dunia, dan tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi atau dijual kepada investor swasta. Pernyataan UEFA juga menyebutkan bahwa tindakan FIFA ini adalah kegagalan kepemimpinan dan pengabaian tanggung jawab sebagai pengelola sepak bola dunia.

Selain itu, investor utama yang ditunjuk dalam proyek ini adalah Thrive Capital, sebuah perusahaan investasi yang dipimpin oleh Joshua Kushner, yang memiliki hubungan keluarga dengan tokoh politik Amerika Serikat.

Baca juga:

Penolakan dari UEFA dan CONCACAF ini menimbulkan ketidakpastian besar terhadap kelanjutan rencana FIFA, dengan potensi boikot terhadap turnamen-turnamen FIFA yang dapat memiliki dampak luas bagi dunia sepak bola internasional.