Media Kampung – Ritel game ternama di Inggris, Game, resmi masuk administrasi pada Februari lalu dengan total utang mencapai £15,8 juta (sekitar Rp320 miliar). Sebuah laporan terbaru dari KR8 Advisory mengungkap bahwa penyebab utama keruntuhan ini adalah perubahan perilaku konsumen, persaingan ketat, dan ketidakpastian akibat Brexit.
Laporan yang ditulis oleh James Saunders dan Lauren Wentworth, administrator yang ditunjuk pada April, merinci perjalanan jatuhnya perusahaan yang dulu memiliki lebih dari 300 toko pada 2012. Game mulai mengalami penurunan profit hingga 71% pada 2016, dan terus merugi hingga £7,1 juta pada tahun berikutnya.
“Kondisi pasar tetap sulit di tahun-tahun berikutnya karena perubahan perilaku konsumen, termasuk transaksi dari game fisik ke digital, ketidakpastian terkait Brexit, dan meningkatnya persaingan di sektor ini,” tulis Saunders dan Wentworth.
Meskipun Frasers Group mengakuisisi kekayaan intelektual Game pada 2019, upaya penyelamatan itu tidak cukup. Pada 2025, kinerja bisnis di musim gugur—yang biasanya menjadi puncak penjualan—justru buruk. Laporan mencatat tidak ada perilisan konsol besar sejak 2020, dan kelangkaan chip global semakin menunda produksi konsol generasi baru.
Dengan Grand Theft Auto 6 yang dirilis tanpa cakram fisik dan Sony berencana menghentikan produksi cakram mulai 2028, prospek ritel game fisik semakin suram. Tidak ada tanggal pasti untuk konsol generasi berikutnya seperti PlayStation 6 atau Xbox Helix, dan kenaikan harga komponen membuat konsol semakin sulit dijangkau masyarakat umum.
Kejatuhan Game menjadi cerminan bagaimana industri ritel game fisik perlahan tergerus oleh digitalisasi dan ketidakpastian ekonomi global.














Tinggalkan Balasan